Aku Bagian Dirimu

"Aku tak akan pernah pergi. Aku adalah bagian dirimu. Membunuhku sama seperti membunuh dirimu sendiri. Kamu tak akan sanggup kan? Karena kekuatanmu, yang rapuh tapi angkuh."

"Iya sebentar, aku masih ada satu urusan tak terselesaikan."

"Kamu bilang 'tak', bukan 'belum'. Kamu kan tau, aku tidak suka menunggu lama! Ya sudah, aku tunggu di ujung jalan. Sama seperti jalan-jalan yang sebelumnya. Sepanjang apa kau mencapainya, aku akan selalu ada, di ujungnya."


Hush hush! Tak bisa kuhalau gema bising diantara kedua telingaku.
Enyah! Enyah! Kubilang sudah! Tapi ia tak mau mengalah.
Aku dan dia saling berkejaran. Tapi dengan berbalik arah membelakangi satu sama lain. Konon katanya bumi itu bulat. Jadi aku berusaha lari selambat mungkin. Karena jika memang bulat adanya, kami akan bertemu lagi di suatu titik. Dan dia akan mulai menggerutu.


"Kamu kan tau, aku tak suka menunggu lama! Coba pikirkan, mengapa aku harus menunggu lama, mengapa kamu harus menghindar, kalau dari awalnya kita sudah tau, kamu akan membunuhku!"


Gema suaranya selayak lebah terperangkap di antara kedua telingaku.


"Ingat! Membunuhku adalah membunuh dirimu sendiri. Aku bagian dirimu."


Lalu aku berpikir, adakah bagian diriku lain yang sama kuat untuk menunda pertemuanku dengannya, di ujung jalan tempat dia selalu menunggu.

Brutal honesty about bipolarity: I don't want to be cured (yet)!

Happy first memorial! 
A year forward is a year backward



Ketika pertama kali sadar dengan kebipolaran, aku berusaha mendeny dan menganggap ahhh ini hanyalah mood swing, PMS, nature perempuan, masih muda dan bergejolak, belum dewasa. Bertahun-tahun fight, thinking that it's gonna end one day, ternyata di kemudian hari memilih pasrah tidak melawan lagi. I accept it!



Back then, if I was so smart to realize, sejak sekolah dasar! Bayangkan! Bertahun tahun!. When I look at myself in the mirror, I wish I could scream to my younger self; "Jangan! Jangan larut dalam fantasi! Jangan ciptakan karakter bayangan yang suatu hari akan membunuhmu. Menggerogoti dirimu perlahan-lahan dari dalam. Someday, you ain't gonna be able to handle that other side of you. So don't even try!" Tapi apalah yang diketahui seorang belia yang harusnya inosen tapi dipaksa dewasa sebelum waktunya. Ketika realita tidak lagi menjadi kawan, fantasimu pun menguasai mental. Karena kamu tidak cukup sadar, ada sebuah akhir di tebing curam ketika kamu terus dan terus berlari. Ada sebuah janji yang akan digenapi. The end of all beginning. Tapi bagaimana bisa kamu menolak sebuah obat ketika kamu sakit.



Honestly, aku tak tau apa ada kaitannya dengan turunan. Zodiac mungkin? As most Scorpion have the darkest emotion you could ever imagine. Like an iceberg. Tapi awal kemunculan kebipolaran dalam diriku adalah otak dan hati yang terlalu dini untuk sadar; "Something's off", "It's not supposed to be like this", "No, what they see is so fuckin' wrong", "There's something beyond it! I knew and I need to find out!". Being a childhood broken glass bukanlah titik terberat yang memunculkan kebipolaran. Lebih pada kenapa aku selalu mempertanyakan apa yang di sekelilingku. Dan ketika apa yang aku anggap "Harusnya formulanya seperti ini", tidak terjadi pada real-life, I tend to run, tend to seek for distraction. Disappointed dengan what's happening surround me, jika orang lain melihat dengan mata normal dan aku melihat dengan mata juling, aku memilih lari dari kenyataan dan bersahabat dengan fantasi. Berbicara dengan "my other side" who don't put on a mask at all. Seolah dia yang paling mengerti dan bisa menentramkan jiwaku. Dan bahkan jika aku berdoa pun, aku tak yakin aku bicara pada tuhan atau diriku sendiri.

Tapi, dia, diriku yang lain, tidaklah selalu baik, protecting dan berperan jadi guardian angel (Hmmm, aku selalu percaya sisi lain itu tak cuma satu, ada banyak. Seperti Sybil. Si gadis dengan 16 kepribadian). Dia kadang menguasai aku, menjadi kesetanan, memberontak, dan tak peduli. Dia senang kalau aku reckless dan menyakiti jiwa lain. Tapi yang aku tahu, ketika aku sudah calm down dan menyesali semua tindakan nekatku, dia tak pernah beranjak pergi. Dia akan menemaniku duduk menangis. Dia tak menertawakanku. Dia akan mengelus rambutku dan berbisik "It's what it supposed to be".




Tantangan berat mengidap bipolar disorder adalah bagaimana orang melihat kita sebagai seorang hipokrit. Karena up dan down di sela-sela period itu menunjukkan diri kita seperti layaknya koin recehan, dua sisi dan worthless. Banyak yang tidak bisa membaca, jika hypomania dan depressive period itu diluar kontrol kita. Tidak sekedar, today I decide to be happy or sad. Bahkan ketika kamu memulai hari dengan happiness, kamu gak bisa menjamin apa yang terjadi di sela sela dan akhir sebuah hari. It's flipping so easily, bahkan dalam satu hari bisa hypomanic-depressive-hypomanic-depressive, atau kadang mixed. Taukah kamu, aku tak pernah bisa mengontrol diriku untuk kembali ke normal state of mood. Yang aku bisa lakukan hanya menunggu. Waktu tunggu yang panjang dan melelahkan. Biasanya kuisi dengan menangis, tidur, atau melakukan hal hal yang tidak terencana dan tak terpikirkan oleh akal sehat. Normal state akan muncul sendiri. Seperti mempermainkan aku; "Hai kamu sepertinya masih kuat, belum kelelahan, kuberi kamu satu level up lagi; hmmmm mania atau depressive ya, biar lebih seru kuberi kau mixed period". Cara melawan semua permainannya hanya distraction. Distract my mind as much as I could. And this is the reason why I'm turning into a heavy-smoker. Smoking distract me so perfectly in various states. Sedikit yang sadar, saat aku menyulut batang berikutnya dalam jeda hitungan detik saja, there's something off in my mind.



Aku benci ketika orang bilang "Coba kamu bisa kontrol dan sembuh, benefitnya akan lebih banyak lagi. Hidupmu akan lebih maksimal." Heiiiii, kalimat itu seperti halnya kamu berbisik pada seseorang dengan kaki yang patah untuk berlari. Jangankan berlari, masih percaya jika punya kaki, itu sudah bagus. And that's me, with a broken leg, I won't be able to walk straight on the line. Don't be a jerk and ask me to run! Just believe in me, I won't stop even I have to move by dragging my body. Ngesot, kan lumayan, udah sexy bisa ngesot, kaya suster suster di fantasi kalian. Satu trick untuk men-support depressive people; don't expect too much! Let them working on themselves. Itulah kenapa if you consider yourself depressed, you need somebody strong and patience. Not to lead you, but simply just be by your side. Hold your hand while you're getting through the storms.



Me? Hmmmh, I'm not the best healer. Sebelum kalian consider me as the best healer, sebelum kalian terlalu mabuk dengan my strength, be aware, I have my down moments as well. Beautifully fuckable and intriguing.

Hypomania state

Biasanya kualami bukan dari normal up ke state ini. Lebih seringnya dari depressive langsung jump jadi elation. Jadi bisa dibayangkan setelah "creating the wall", locking yourself up dan tiba-tiba up menjadi cheerful dan motivated. You can imagine how would you look like in people's eye. Seperti seorang hipokrit yang tak "sumbut" (kalo istilah orang Jawa). This what makes some people give up on me! "Numerous people with bipolar disorder have credited hypomania with giving them an edge in their theater of work." It does! Dalam sekejap aku menjadi hiperaktif, talkative, otak seperti galaksi bintang. Biasanya di moment ini I could pour all of my ideas. I write, I work harder than usual, increasing task completion and satisfaction, cleaning up (not related with OCD tough). Social sense juga meningkat, nature to listen and support people. Ruginya, I face excessive loss of sleep dan kadang karena terlalu hiperaktif bisa melakukan suatu tindakan yang reckless.

Normal state
I hate to admit that it's kinda boring. Justru di state ini lah aku lebih punya banyak unfinished tasks. I just feel blunt, stupid and lazy. Talkative tingkat sedang, tidak hiper dan tidak diam. Dan masih ada passion untuk helping others.

Depressive state
The worst state ever! Kadang tidak ada trigger sama sekali. I just feel low, worthless, susah mikir way out, self-blaming, low self-esteem, opheliac tendency. Unlike hypomania, di state ini malah cenderung having excessive sleep. Tapi tetep aja gak bagus. Aku lupa makan, lupa mandi, shut people down. Biasanya aku akan kehilangan ability to socially "fit-in". Kalau datang bersamaan dengan suatu bad event, honestly, suicidal tendency itu ada. Excessive sleep di state ini hanya distraction agar lupa dengan whatever surrounding me. Biar hari cepat berlalu. Biar numb dan gak perlu merasakan apa apa.


I don't know how it will end someday. Dalam pemikiran pendeknya, kemungkinan berakhir dengan suicidal tendencies itu ada. Dalam pemikiran panjang, kemungkinan simply reducing my life span.

Suicide? Hmmmmmmhhhhh




I'm not sure if he has bipolar symptom as well. I guess he is just beautifully depressed, but able to put the perfect mask on. Using heart-welhming and poetic lyrical music as his theater of depression.

One false thought about people with suicidal tendencies is... Orang akan menganggap mereka tidak berjuang. Thanks to my lil' sis yang punya perspektif sama; "Aku salut dengan orang yang suicide. Orang hanya melihat mereka menyerah, tapi tak melihat kalau mereka pernah berjuang. Dan ketika aku mengutarakan ini pada teman-temanku, mereka menganggap aku gila. Padahal I'm just able to relate LP's dark lyrics." (sepertinya dia benar kalo kami sekandung tak diberi porsi fisik yang sama, tapi porsi batin yang sama)



Mungkin mereka pernah berjuang to be healed, to be cured, to be saved, to see one more light. I do too! Aku tak bilang jika perjuangan hanya dimiliki orang orang abnormal. Kita semua punya perjuangan. Hanya saja dalam mental bipolar, perjuangan itu berlipat ganda (and here's to all the broken and mentally-illed people)! Hey, I'm not trying to compete as the most victimized and in despair person in the world! I'm trying to show you the idea of being bipolar! Dan bahkan setelah bertahun tahun, saat aku sudah mulai bisa memaafkan diri sendiri dan sedikit demi sedikit berdamai dengan apa yang ada di sekitarku, trying to be as real as possible with no mask, dua sisi itu tetap ada.

We all have been trying to save ourselves. Tapi dimasa aku menuangkan tulisan ini. I extremely don't want to be cured! It does exhausting! Tapi ada sisi yang menyayangkan ketika kebipolaran ini harus disembuhkan. Karena, dari period depressive dan hypomania itulah, datang state dimana bisa dirumuskan purest thought and words from the heart.


Membayangkan sembuh, betapa bisa kita hidup normal. Humm, sepertinya asyik? Ahh, masak sih seasyik itu. Normal is boring, isn't it?!



It's exhausting! Tapi ketika aku selalu stuck dan belum mendapat jalan keluar untuk sembuh, the best thing I could do adalah bagaimana aku bisa squeeze the benefits of having bipolarity. Aku pelajari symptom yang ada, keep a journal of what state I am at this time, what's triggering it. Then find the formula, the mechanism of depression and happiness, how could I take the benefit from each state.

I don't want to be cured! Mungkin di kemudian hari, tapi tidak sekarang. Seperti pelakon teater yang pensiun. Aku akan kehilangan sebuah muse. Sebuah chance untuk boost myself up. Sebuah chance untuk berkarya maksimal. Dan chance untuk having something to inspire and help people. Using the broken pieces to complete other cracks. My one and only redemption.





The priviledge and curse of being bipolar

As not so many people could bear my strength, only a few could bear my weakness either.

Somehow, it's dazling, nevertheless intimidating and poisonous.

You may enjoy plucking the petals of rose, but beware of touching the thorn.

It's a priviledge and a curse of being bipolar.

#onlyyoucouldsaveyourself

What a minority wants

Here's a little trick...

When you smell something's wrong with a person. You would like to ask "What happen?"

There is a minority who doesn't need that question. They'd rather hear you ask "Are you still holding up?"

All they want you to know is they are not okay, but they're trying to fight. Whether they would survive or not.

Don't push them to say anything else. The battle is between them and theirselves. They don't expect you to solve their problem. Sometimes, they do already know the answer. Don't give them false hope or meaningless advices, just keep them in your prayers.