Dying Repairman

Sesekali berjalan di Moses melihat satu kios reparasi barang elektronik diantara belasan counters handphone. Terlihat lusuh seperti kios tua pada umumnya yang menyerah pada perkembangan jaman. Penghuninya seorang setengah baya. Setiap kali aku lewat terlihat beliau hanya duduk dan menonton televisi yang terposisi sejajar dengan kakinya.

Flashback di masa awal aku SMP, masa itu sedang boomingnya CD player. Ingat CD player pertama yang dibeli bapakku, terlihat WOOOOW sekali. Jarak sekian bulan setelah CD player pertama dibeli, akhirnya rusak juga. Saat itu semakin banyak rumah yang memiliki CD player, tak terpikirkan niat untuk memperbaiki CD player kami yang rusak. Malahan seseorang teman bapak berkata, "Ngapain dibenerin! Sekarang harga servis CD player sama beli baru sama saja!"

Setelah peristiwa kerusakan yang pertama, aku ingat keluargaku beberapa kali membeli CD players dan rusak, beli lagi, rusak, beli lagi, sampai ada sekitar 5-6 CD players di rumah kami.

Jaman yang serba kapitalis, sudah membunuh nasib SEBAGIAN jasa servis. Karena merasa semua bisa didapatkan dengan harga yang hampir sebanding, manusia bisa dengan mudahnya me-replace hal hal lama.

Ada pasar, semakin banyak untung yang ingin diambil, semakin banyak yang diproduksi, semakin banyak pula yang terproduksi sia-sia.

Makin banyak orang tak sabar memberi waktu untuk fixing things, dan memilih starting/getting a new one.

Does it only happen to THINGS??? I bet, NO!!!