Mendung

Orang - orang suka matahari terbit
atau terbenam
Aku......selalu menyukai mendung

Dan aku menemukanmu
Seperti mendung
Yang selalu kusuka
Tapi hanya boleh kucecap,
nikmatnya,
sebentar saja
Kemudian leleh dan hilang
Menanti waktu untuk kembali
menjadi gugus mendung
Yang boleh kucecap lagi
Selagi bumi belum meresapnya

About Selfie: Sisi lain sebuah trend

Aku bukan anak gahol tapi cukup memperhatikan hashtag "selfie" menjamur dimana2 coy. Kupikir itu artinya foto diri sendiri, UDAH. Tapi hari ini meluangkan waktu untuk membaca artikel mengenai selfie (Click here to see the article). Disana ditulis kalau selfie kurang lebih berarti foto yang kita ambil dengan objek diri kita sendiri, biasanya dengan menggunakan media smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke sosial media.  Ditulis juga bahwa selfie bahkan dihubungkan dengan kondisi kesehatan mental lebih rincinya obsesi terhadap penampilan.

Memfoto diri sendiri aku rasa sudah mulai banyak dilakukan semenjak muncul kamera yang terintegrasi dalam handphone. Tapi dulu-dulunya juga gak ada istilah semacam selfie, ya? Istilah narsis juga tidak lantas booming setahun dua tahun setelah mencuat era camera-phone.

Kemarin aku iseng poto mukaku abis bangun tidur, nohhhh potonya dibawah... Natural kecuali poto yang kanan bawah memang agak disituasikan rambutnya berantakan, padahal aslinya ya cuma semacem yang kiri bawah itu. Maklum, cuma pake shampoo sih, huahahahha... Kalo jeleknya sih sudah mutlak membanggakan (red: jelek tapi pede). Poto kuupload di Instagram yg nyalur ke Facebook dan Twitter dengan caption "Just wake up! 'cos cute & duck face is too mainstream,mamen!"




Setelah baca artikel tentang selfie tadi, jebulnya, poto just wake up termasuk kategori poto selfie... Terima gak terima, karena konsep poto ini sebenarnya "be who you are and never let beauty concepts control you" --yo intine sak elekelek'e kowe ora usah isin-- Terus kalau tak ku upload gimana bisa spreading konsep positive itu???

Mungkin selfie kadang mengganggu pihak-pihak yang menyaksikannya, aku sendiri juga gak suka follow instagram orang-orang yang isi postingannya cuma muka doang terus-menerus (beda kasus kalo postingannya tentang fesyen atau seni make up lho ya!! Itupun ada yang ngakunya fesyen tapi fokus kamera tetep di mukanya)

Ketika awal-awal aku membaca jenis-jenis selfies di artikel itu, aku pikir ada benarnya juga. Seperti misalnya nomor 2, kalo mau posting gambar piaraan kok ada bagian yang tidak dibutuhkan (red: ownernya) ikutan dipoto dan nomor 15 dimana potonya tidak relevan dengan caption "had a great nite out!". Seperti beberapa poto saya lihat di Facebook yang captionnya selamat pagi tapi potonya muka si manusia, bukan poto matahari terbit. Nomor 3, tidak mau menyembunyikan, ada benarnya orang kalo udah dandan pasti logikanya cepet poto sebelum ancur mamen! Aku sendiri kalo sama temen-temen mau poto suka pake joke "Cepetan potonya, keburu bedaknya luntur!" Padahal mukaku bedakkan atau engga ya sama aja jelek mutlak membanggakan. Kalo nomor 12, gak gitu juga mamen! Kalo si gadis itu poto telanjang while having sex, mungkin bisa dibilang whore, dan itu juga gak menjamin sepenuhnya kalo dia whore, cause you know lah kebanyakan scene sex itu dibuat-buat senakal dan se-hot mungkin. Nomor 13, bisa jadi si pria kece adalah businessman yang sibuk dan cuma di airplane ini dia punya waktu luang untuk memperhatikan dirinya sendiri (bisa jadi lho). "Ya mana mungkin kece gitu gak punya waktu memperhatikan diri?" Mungkin aja kale kalo kecenya emang udah natural dari sono, hihihihi. Semakin kebawah, saya lihat nomor 16.......hhmmmmmm, tunggu dulu mamen!! Jangan buru-buru menjudge.

Selfie di satu pihak bisa jadi pernyataan rasa percaya diri, tapi dilain pihak juga bisa lho dijadikan alat untuk menyerang rasa confidence kita. Seperti rahasia umum, haters gonna hate, orang akan berkomentar apapun tentang gerak gerik kita. Di artikel tersebut dikatakan semua orang pasti pernah membuat kekacauan, tapi jika ingin memposting tempat tinggal kita di internet, mohon dirapikan dulu!!

SO WHAT!!! Entah di poto itu sengaja atau tidak menampilkan background kamar si perempuan yang berantakan, tapi kupikir justru itu bagus untuk menampilkan si perempuan apa adanya (kita tak tahu juga kan itu benar-benar kamarnya atau kamar orang lain?!)

Satu lagi kemungkinan menjudge poto selfie, ada seseorang yang kurang confidence, mempoto diri sendiri (yang notabene medianya cuma benda mati, kalo orangnya kurang pede mana mau dipoto orang lain, hayo!!) mungkin secara kasar bisa menjadi terapi meningkatkan kepercayaan diri. However, menjamurnya selfie juga diiringi dengan menjamurnya poto "FAIL". Orang-orang yang bukan main telitinya sampe tau letak kesalahan, kebohongan, atau hal unik sederhana yang berpotensi dijadikan komoditas bahan olok-olokan. Seringnya poto fail mengkritik tentang teknik potoshop yang amatir. Tapi tak jarang menertawakan hal-hal yanag dirasa "tidak gaul", "jelek" atau "not fit-in". Potoku diatas itu mungkin saja setelah kuposting bisa dijadikan komoditas olok-olokan. Atau mungkin ada juga yang poto selfienya bener-bener dipandang sempurna oleh orang-orang bodoh yang merasa kurang sempurna jadi jatohnya dicibir juga... Cih.. Cuih..

Haters gonna hate... Jadi kalau kau sudah merasa percaya dan nyaman dengan dirimu sendiri, Screw 'em! Just live it up! Asaaaaallll, yang kamu lakukan logis, tidak seperti nomor 2 & 15, huahahahhah... Boleh selfie, tapi self-reflecting juga yaaaa, jangan judging dan bullying!!!

Sekian...