Aku Bagian Dirimu

"Aku tak akan pernah pergi. Aku adalah bagian dirimu. Membunuhku sama seperti membunuh dirimu sendiri. Kamu tak akan sanggup kan? Karena kekuatanmu, yang rapuh tapi angkuh."

"Iya sebentar, aku masih ada satu urusan tak terselesaikan."

"Kamu bilang 'tak', bukan 'belum'. Kamu kan tau, aku tidak suka menunggu lama! Ya sudah, aku tunggu di ujung jalan. Sama seperti jalan-jalan yang sebelumnya. Sepanjang apa kau mencapainya, aku akan selalu ada, di ujungnya."


Hush hush! Tak bisa kuhalau gema bising diantara kedua telingaku.
Enyah! Enyah! Kubilang sudah! Tapi ia tak mau mengalah.
Aku dan dia saling berkejaran. Tapi dengan berbalik arah membelakangi satu sama lain. Konon katanya bumi itu bulat. Jadi aku berusaha lari selambat mungkin. Karena jika memang bulat adanya, kami akan bertemu lagi di suatu titik. Dan dia akan mulai menggerutu.


"Kamu kan tau, aku tak suka menunggu lama! Coba pikirkan, mengapa aku harus menunggu lama, mengapa kamu harus menghindar, kalau dari awalnya kita sudah tau, kamu akan membunuhku!"


Gema suaranya selayak lebah terperangkap di antara kedua telingaku.


"Ingat! Membunuhku adalah membunuh dirimu sendiri. Aku bagian dirimu."


Lalu aku berpikir, adakah bagian diriku lain yang sama kuat untuk menunda pertemuanku dengannya, di ujung jalan tempat dia selalu menunggu.