Para ksatria sudah punah,
diganti banci innocent,
setidaknya banci kaleng lebih berani bersuara,
dan tampil apa adanya..
Berbuat baik itu konyol
Sabtu 2 minggu kemarin saya pulang ke Purwodadi. Seperti biasa sampai Tirtonadi saya langsung naik ke bis Rela, hohoho. Ceritanya dari balik kaca bis saya melihat seorang kakek2 memikul 2 buah bebans di salah satu pundaknya. Saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama si kakek. Lebih tepatnya (dan untuk menghindari prasangka dari pihaks yang tidak memanfaatkan hak bertanyanya dengan baik) simpatik pada pandangan pertama.
Setelah menunggu agak lama, si kakek naik ke bis yg telah saya tumpangi dan bis pun hendak berangkat. Saya dengar sang kondektur bis (salah satu dari sekian banyak muka kondekturs genit Rela yg saya kenali tapi tak mau saya kenali) bicara lantang pada si kakek "Kalau tak mau bayar, jangan berani2 ikut bis ini". Si kakek pun menenteng pikulannya turun lagi.
Bis keluar dari terminal dan melakukan hobinya "ngetem". Saya turun dan masuk kembali ke dalam terminal, penasaran sama si kakek tadi.
Akhirnya saya duduk dan kebetulan tempat duduk si kakek diambil seorang anak muda jadi dia bergeser ke samping saya. Jadi, saya lancarkan jurus pedekate pada si kakek.
Singkat cerita, si kakek ini berasal dari Gunung Kidul dan menjual mainan gasingan di simpang lima Purwodadi kalo malam, kebetulan saat itu sabtu malam minggu. Beliau baru saja berangkat dan belum menjual satu pun dari mainannya jadi saat si kondektur meminta tambahan ongkos Rp 10rb untuk biaya angkut dagangans si kakek, beliau memilih turun lagi dan menunggu sampai ada bis yg mau mengangkut orang dan dagangansnya.
Herannya saya tanya kenapa kok jualnya di Purwodadi, tak di Solo saja; katanya sudah biasa jualnya di Purwodadi. Si kakek ini (menurut penuturan beliau) pulang ke Gunung Kidul kalau dagangannya sudah habis (atau mendekati habis) dan tidur di pasar. "Bukan pasar Purwodadi, pasar stasiun, tapi banyak lonthenya!" Saya tertawa ngakak bukan main sampe seorang ibu asongan memperhatikan percakapan kami.
Saat itu saya meyakinkan diri kalau paling tidak ada uang Rp 30rb di dompet, lalu saya ajak si kakek naik bis Rela yang selanjutnya dan saya menawari untuk membayarkan biaya angkut dagangansnya kakek. Si ibu asongan yg menguping dengan terang2an tadi sumringah dan berkoar2 di terminal menyiarkan bahwa si embak ini kasihan sama si kakek dan mau membayari si kakek. Alhasil, semua orang pun menoleh dan memantau gerak gerik saya.
Perasaan saya campur aduk. Tapi tak ada rasa malu. Cuma rasa senang, sedih, bingung dan "perasaan mungkin lain kali".
Senang, karena bisa membantu si kakek.
Sedih dan bingung, kenapa mereka menertawakan orang yg berbuat baik seperti menertawakan orang yg berbuat konyol, norak dan out of date.
"perasaan mungkin lain kali ", membuat saya belajar, mungkin lain kali saya bisa membantu kakek2 yg lain dengan membeli dagangannya biar meski sedikit tapi ada unsur menghargai hasil karya sang kakeks.
Begitulah, dunia semakin aneh, bukankah berbuat jahat sesungguhnya lebih membutuhkan nyali dan keberanian? Tapi fakta di zaman ini, LEBIH DIBUTUHKAN BANYAK NYALI DAN KEBERANIAN UNTUK BERBUAT BAIK.
Setelah menunggu agak lama, si kakek naik ke bis yg telah saya tumpangi dan bis pun hendak berangkat. Saya dengar sang kondektur bis (salah satu dari sekian banyak muka kondekturs genit Rela yg saya kenali tapi tak mau saya kenali) bicara lantang pada si kakek "Kalau tak mau bayar, jangan berani2 ikut bis ini". Si kakek pun menenteng pikulannya turun lagi.
Bis keluar dari terminal dan melakukan hobinya "ngetem". Saya turun dan masuk kembali ke dalam terminal, penasaran sama si kakek tadi.
Akhirnya saya duduk dan kebetulan tempat duduk si kakek diambil seorang anak muda jadi dia bergeser ke samping saya. Jadi, saya lancarkan jurus pedekate pada si kakek.
Singkat cerita, si kakek ini berasal dari Gunung Kidul dan menjual mainan gasingan di simpang lima Purwodadi kalo malam, kebetulan saat itu sabtu malam minggu. Beliau baru saja berangkat dan belum menjual satu pun dari mainannya jadi saat si kondektur meminta tambahan ongkos Rp 10rb untuk biaya angkut dagangans si kakek, beliau memilih turun lagi dan menunggu sampai ada bis yg mau mengangkut orang dan dagangansnya.
Herannya saya tanya kenapa kok jualnya di Purwodadi, tak di Solo saja; katanya sudah biasa jualnya di Purwodadi. Si kakek ini (menurut penuturan beliau) pulang ke Gunung Kidul kalau dagangannya sudah habis (atau mendekati habis) dan tidur di pasar. "Bukan pasar Purwodadi, pasar stasiun, tapi banyak lonthenya!" Saya tertawa ngakak bukan main sampe seorang ibu asongan memperhatikan percakapan kami.
Saat itu saya meyakinkan diri kalau paling tidak ada uang Rp 30rb di dompet, lalu saya ajak si kakek naik bis Rela yang selanjutnya dan saya menawari untuk membayarkan biaya angkut dagangansnya kakek. Si ibu asongan yg menguping dengan terang2an tadi sumringah dan berkoar2 di terminal menyiarkan bahwa si embak ini kasihan sama si kakek dan mau membayari si kakek. Alhasil, semua orang pun menoleh dan memantau gerak gerik saya.
Perasaan saya campur aduk. Tapi tak ada rasa malu. Cuma rasa senang, sedih, bingung dan "perasaan mungkin lain kali".
Senang, karena bisa membantu si kakek.
Sedih dan bingung, kenapa mereka menertawakan orang yg berbuat baik seperti menertawakan orang yg berbuat konyol, norak dan out of date.
"perasaan mungkin lain kali ", membuat saya belajar, mungkin lain kali saya bisa membantu kakek2 yg lain dengan membeli dagangannya biar meski sedikit tapi ada unsur menghargai hasil karya sang kakeks.
Begitulah, dunia semakin aneh, bukankah berbuat jahat sesungguhnya lebih membutuhkan nyali dan keberanian? Tapi fakta di zaman ini, LEBIH DIBUTUHKAN BANYAK NYALI DAN KEBERANIAN UNTUK BERBUAT BAIK.
Buang Hajat
Dulu kukira buang hajat adalah satu point dimana semua manusia bisa menjadi sama dan biasa. Kaya miskin, rupawan tak rupawan, tua muda, semua punya najis di usus besarnya.
Lambat laun tersadar juga, di satu point dimana manusia secara alami dituntut untuk menjadi biasa ini, kasta tetap berlaku.
Kamu buang hajat dimana?
Di kali, WC ceblung alias jamban, closet sederhana, closet semi-mewah, closet super-mewah yang melumpuhkan kemandirian si empunya hajat (red: bilas pantat aja minta dibilasin toilet).
Satu point dimana semua manusia bisa menjadi biasa telah diluarbiasakan oleh tingkat peradabannya.
Lambat laun tersadar juga, di satu point dimana manusia secara alami dituntut untuk menjadi biasa ini, kasta tetap berlaku.
Kamu buang hajat dimana?
Di kali, WC ceblung alias jamban, closet sederhana, closet semi-mewah, closet super-mewah yang melumpuhkan kemandirian si empunya hajat (red: bilas pantat aja minta dibilasin toilet).
Satu point dimana semua manusia bisa menjadi biasa telah diluarbiasakan oleh tingkat peradabannya.
Pembulatan ke Atas
Akhir2 ini di tempat kerja, saya belajar tentang pricing, ngitung2 tarif property gitu. Nah salah satu hal yg saya ingat adalah "pembulatan ke atas". Kalo diingat2 ini pelajaran jaman SD, tp sekali mengingat saya jadi gak mau ingat lagi, keki kalo sama matematika.
Jadi, kalo kita mengoperasikan bilangan dan semisal jumlahnya adalah 99,999 bilangan tersebut bisa dibulatkan. Bulat membulatkan ini sendiri dibagi menjadi dua: pembulatan ke atas (100) dan pembulatan ke bawah (99).
Beranjak ke ALINEA 3 (ceile, vocabulary jaman SD), saya gak mau ngomong panjang lebar ttg metode bulat membulatkan itu karena memang bulat itu bulat, tidak panjang dan tidak lebar. Sekarang mari kita bicara penerapannya pada TIPI INDONESIA.
APA HUBUNGANNYA??
Jadi begini ceritanya sodara, mari kita liat berita di tipi-tipi Indonesia. Singkirkan dulu masalah korupsi yg sudah basi tapi masih subur dipelihara itu. Pernahkah anda menyaksikan berita ttg bencana?? Entah bencana alam, atau bencana non-alam (:-p) seperti misalnya kebakaran di pemukiman padat penduduk?
Satu kalimat yg sering saya dengar dan sepertinya sudah jadi template untuk menutup berita ttg bencana adalah: "Sampai saat ini pemerintah belum menyalurkan bantuan."
Naaahhhh, jadi disinilah TKP kita menerapkan metode bulat membulatkan itu. Kita, pada umumnya, saat mendengarkan kalimat tersebut lantas membulatkan ke atas (red: kepada pemerintah) yang mana pembulatan itu lebih sering secara negatif. Menganggap pemerintah tak cekatan, tak peduli dan tak becus mengemban tugasnya.
Naaahhhh lagi, bagaimana kalo sekarang kita coba bulatkan ke bawah (red: kepada rakyat). Seperti apa hasilnya?? Kalo saya yg membulatkan ke bawah kok hasilnya jadi begini ya sodara: kalimat itu secara tidak langsung mengarahkan (atau justru malah menunjukkan?) rakyat Indonesia untuk menjadi manja, terlalu bergantung pada pemerintah.
It's true that pemerintah wajib membantu dan bertanggungjawab atas nasib kesejahteraan rakyatnya. And it's goddam true kalo pemerintah Indonesia belum ahli melaksanakan kewajiban ini. Tapi, mbokyao jangan terus2an membulatkan ke atas seperti itu, kalo dibiarkan lama2 kita benar2 bisa jadi manja & terlalu bergantung pada pemerintah. Semakin lama semakin rancu, ini rakyat Indonesia ngomong gitu krn emang perlu dibantu atau karena mereka MALAS BERUSAHA DAN CARI GAMPANGNYA SAJA.
Sekian. Semoga bermanfaat.
Ekonomi Purwodadi - Solo
Ini jaman sudah tua,
Moral manusia makin keriput saja,
Ibu berdiri sibuk tenangkan tangis anak,
Pria kekar duduk diam tak beranjak..
Miyabi
Bulat manis montok,
Satu mata mengerling
Kadang hijau, kadang oranye
Lidahnya slalu menjulur sexy
Pemuas nafsu abadi,
Nafsu rindu kehangatan di malam hari
Nafsu mencumbu perut di siang hari
Nafsu berbuat onar bersama kawan Rompank
Miyabi, mari tancapkan, Miyabi!
Sampai klimaks dicapainya
Dan kita reguk nikmatnya
Dedicated for:
Magic com Miyako-ku, terimakasih sudah menemani dalam kaya dan miskinku.
Subscribe to:
Posts (Atom)