Kerumunan menari diatas jalanan kota
Sebentar hujan membusuk, sebentar panas terbakar
Mari lekas pulang saja
Kolong kotor itu rumah kita
Disana jiwa berbaring
Peraduan lusuh yang selalu kita rindu
Saat rindunya menyergap, tak peduli kita berkawan bangkai
Ia bukti, tak semua makhluk menjelma sampah plastik
Haruskah menunggu ratusan tahun lagi di jaman ini?
Meleburlah saja, kita,
seperti sang kawan, sang bangkai
Terurai harum di pelukan bumi
Mendung
Orang - orang suka matahari terbit
atau terbenam
Aku......selalu menyukai mendung
Dan aku menemukanmu
Seperti mendung
Yang selalu kusuka
Tapi hanya boleh kucecap,
nikmatnya,
sebentar saja
Kemudian leleh dan hilang
Menanti waktu untuk kembali
menjadi gugus mendung
Yang boleh kucecap lagi
Selagi bumi belum meresapnya
atau terbenam
Aku......selalu menyukai mendung
Dan aku menemukanmu
Seperti mendung
Yang selalu kusuka
Tapi hanya boleh kucecap,
nikmatnya,
sebentar saja
Kemudian leleh dan hilang
Menanti waktu untuk kembali
menjadi gugus mendung
Yang boleh kucecap lagi
Selagi bumi belum meresapnya
About Selfie: Sisi lain sebuah trend
Aku bukan anak gahol tapi cukup memperhatikan hashtag "selfie" menjamur dimana2 coy. Kupikir itu artinya foto diri sendiri, UDAH. Tapi hari ini meluangkan waktu untuk membaca artikel mengenai selfie (Click here to see the article). Disana ditulis kalau selfie kurang lebih berarti foto yang kita ambil dengan objek diri kita sendiri, biasanya dengan menggunakan media smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke sosial media.
Ditulis juga bahwa selfie bahkan dihubungkan dengan kondisi kesehatan mental lebih rincinya obsesi terhadap penampilan.
Memfoto diri sendiri aku rasa sudah mulai banyak dilakukan semenjak muncul kamera yang terintegrasi dalam handphone. Tapi dulu-dulunya juga gak ada istilah semacam selfie, ya? Istilah narsis juga tidak lantas booming setahun dua tahun setelah mencuat era camera-phone.
Kemarin aku iseng poto mukaku abis bangun tidur, nohhhh potonya dibawah... Natural kecuali poto yang kanan bawah memang agak disituasikan rambutnya berantakan, padahal aslinya ya cuma semacem yang kiri bawah itu. Maklum, cuma pake shampoo sih, huahahahha... Kalo jeleknya sih sudah mutlak membanggakan (red: jelek tapi pede). Poto kuupload di Instagram yg nyalur ke Facebook dan Twitter dengan caption "Just wake up! 'cos cute & duck face is too mainstream,mamen!"

Setelah baca artikel tentang selfie tadi, jebulnya, poto just wake up termasuk kategori poto selfie... Terima gak terima, karena konsep poto ini sebenarnya "be who you are and never let beauty concepts control you" --yo intine sak elekelek'e kowe ora usah isin-- Terus kalau tak ku upload gimana bisa spreading konsep positive itu???
Mungkin selfie kadang mengganggu pihak-pihak yang menyaksikannya, aku sendiri juga gak suka follow instagram orang-orang yang isi postingannya cuma muka doang terus-menerus (beda kasus kalo postingannya tentang fesyen atau seni make up lho ya!! Itupun ada yang ngakunya fesyen tapi fokus kamera tetep di mukanya)
Ketika awal-awal aku membaca jenis-jenis selfies di artikel itu, aku pikir ada benarnya juga. Seperti misalnya nomor 2, kalo mau posting gambar piaraan kok ada bagian yang tidak dibutuhkan (red: ownernya) ikutan dipoto dan nomor 15 dimana potonya tidak relevan dengan caption "had a great nite out!". Seperti beberapa poto saya lihat di Facebook yang captionnya selamat pagi tapi potonya muka si manusia, bukan poto matahari terbit. Nomor 3, tidak mau menyembunyikan, ada benarnya orang kalo udah dandan pasti logikanya cepet poto sebelum ancur mamen! Aku sendiri kalo sama temen-temen mau poto suka pake joke "Cepetan potonya, keburu bedaknya luntur!" Padahal mukaku bedakkan atau engga ya sama aja jelek mutlak membanggakan. Kalo nomor 12, gak gitu juga mamen! Kalo si gadis itu poto telanjang while having sex, mungkin bisa dibilang whore, dan itu juga gak menjamin sepenuhnya kalo dia whore, cause you know lah kebanyakan scene sex itu dibuat-buat senakal dan se-hot mungkin. Nomor 13, bisa jadi si pria kece adalah businessman yang sibuk dan cuma di airplane ini dia punya waktu luang untuk memperhatikan dirinya sendiri (bisa jadi lho). "Ya mana mungkin kece gitu gak punya waktu memperhatikan diri?" Mungkin aja kale kalo kecenya emang udah natural dari sono, hihihihi. Semakin kebawah, saya lihat nomor 16.......hhmmmmmm, tunggu dulu mamen!! Jangan buru-buru menjudge.
Selfie di satu pihak bisa jadi pernyataan rasa percaya diri, tapi dilain pihak juga bisa lho dijadikan alat untuk menyerang rasa confidence kita. Seperti rahasia umum, haters gonna hate, orang akan berkomentar apapun tentang gerak gerik kita. Di artikel tersebut dikatakan semua orang pasti pernah membuat kekacauan, tapi jika ingin memposting tempat tinggal kita di internet, mohon dirapikan dulu!!
SO WHAT!!! Entah di poto itu sengaja atau tidak menampilkan background kamar si perempuan yang berantakan, tapi kupikir justru itu bagus untuk menampilkan si perempuan apa adanya (kita tak tahu juga kan itu benar-benar kamarnya atau kamar orang lain?!)
Satu lagi kemungkinan menjudge poto selfie, ada seseorang yang kurang confidence, mempoto diri sendiri (yang notabene medianya cuma benda mati, kalo orangnya kurang pede mana mau dipoto orang lain, hayo!!) mungkin secara kasar bisa menjadi terapi meningkatkan kepercayaan diri. However, menjamurnya selfie juga diiringi dengan menjamurnya poto "FAIL". Orang-orang yang bukan main telitinya sampe tau letak kesalahan, kebohongan, atau hal unik sederhana yang berpotensi dijadikan komoditas bahan olok-olokan. Seringnya poto fail mengkritik tentang teknik potoshop yang amatir. Tapi tak jarang menertawakan hal-hal yanag dirasa "tidak gaul", "jelek" atau "not fit-in". Potoku diatas itu mungkin saja setelah kuposting bisa dijadikan komoditas olok-olokan. Atau mungkin ada juga yang poto selfienya bener-bener dipandang sempurna oleh orang-orang bodoh yang merasa kurang sempurna jadi jatohnya dicibir juga... Cih.. Cuih..
Haters gonna hate... Jadi kalau kau sudah merasa percaya dan nyaman dengan dirimu sendiri, Screw 'em! Just live it up! Asaaaaallll, yang kamu lakukan logis, tidak seperti nomor 2 & 15, huahahahhah... Boleh selfie, tapi self-reflecting juga yaaaa, jangan judging dan bullying!!!
Sekian...
Rumah
Inilah rumah
Tempatku bisa telanjang
Jiwa....
Raga....
Tanpa harus mengenakan kostum
Menyematkan pupur gincu
Memainkan peran panggung
Sesaat dan dibuat-buat
Inilah rumah
Tempatku bebas berkaca
Tanpa ketakutan akan bayangan menghakimi
Tempatku mempercantik diri
Tanpa harus memoles rupa,
dengan warna-warna bodoh
Aku bisa menjadi hitam yang kusuka
Aku bisa menjadi putih tanpa munafik
Aku bisa menjadi merah,
selalu ada biru menjadi peredamnya
Tapi, aku tak pernah perlu menjadi pelangi
Aku terbiasa sakit
Sejenis sakit jiwa
Orang-orang melihatku bahagia
Tapi aku sakit jiwa
Sekarang,
Aku masih saja sakit
Orang-orang lantas melihatku sakit
Tapi jiwaku tak lagi sakit
Aku bahagia dan tak peduli
Karna aku sakit di jalan yang tepat
Jalan yang aku inginkan
Jalan yang aku pilih
Aku pulang.... ke rumah
Tempatku bisa telanjang
Jiwa....
Raga....
Tanpa harus mengenakan kostum
Menyematkan pupur gincu
Memainkan peran panggung
Sesaat dan dibuat-buat
Inilah rumah
Tempatku bebas berkaca
Tanpa ketakutan akan bayangan menghakimi
Tempatku mempercantik diri
Tanpa harus memoles rupa,
dengan warna-warna bodoh
Aku bisa menjadi hitam yang kusuka
Aku bisa menjadi putih tanpa munafik
Aku bisa menjadi merah,
selalu ada biru menjadi peredamnya
Tapi, aku tak pernah perlu menjadi pelangi
Aku terbiasa sakit
Sejenis sakit jiwa
Orang-orang melihatku bahagia
Tapi aku sakit jiwa
Sekarang,
Aku masih saja sakit
Orang-orang lantas melihatku sakit
Tapi jiwaku tak lagi sakit
Aku bahagia dan tak peduli
Karna aku sakit di jalan yang tepat
Jalan yang aku inginkan
Jalan yang aku pilih
Aku pulang.... ke rumah
Cerita dan Tips Cihuuiii Naik Bis Umum
Seperti janji yang sudah lalu, hendak menyambung tentang Cerita Ciki dan Bis Umum
Nahhhh, dari perjalanan panjang bertahun2 menghabiskan umur di kotak berjalan bernama bus, banyak pengalaman dan cerita yang muncul. Beberapa cerita yang terekam dan tips yang bisa ditarik dari beberapa cerita yang kupunya adalah:
Cerita tentang copet
Pernah kecopetan di bis umum? Aku pernah! Bahkan aku pernah kecopetan 2 kali dan sekarang jadi parno sendiri kalo naik bis bawa barang berharga atau uang yang agak berlebih. Kecopetan pertamaku tahun 2006. Barang yang hilang adalah handphone. Ketika itu aku masih pakai Sony Ericsson, ahhhaha. Serinya lupa! Seri jadul yang keluar sebelum seri Walkman. Jaman sekarang hape seperti itu tak ada apa2nya, tapi dulu ya sudah lumayan lah kalo bisa buat kamera dan mp3 player, hehehe. The silly thing is, gara2 aku pakai gantungan hape dan si hape bisa dengan mudahnya ditarik keluar dari saku celana oleh si pencopet.
Kecopetan yang kedua dompet berisi uang hampir setengah juta yang rencanannya buat bayar sekolah. Kejadiannya gara2 sudah mau turun di Tirtonadi aku ambil uang kecil dari dompet dan dompet ku taruh di tas bagian saku depan yang kecil.
Setelah dua beberapa kejadian lainnya, semakin aware dengan keberadaan copet. Dari beragam modus dan teknik yang dipakai, yang pernah kualami antara lain... yukk mari simak:
Kecopetan yang kedua dompet berisi uang hampir setengah juta yang rencanannya buat bayar sekolah. Kejadiannya gara2 sudah mau turun di Tirtonadi aku ambil uang kecil dari dompet dan dompet ku taruh di tas bagian saku depan yang kecil.
Setelah dua beberapa kejadian lainnya, semakin aware dengan keberadaan copet. Dari beragam modus dan teknik yang dipakai, yang pernah kualami antara lain... yukk mari simak:
Modus pura2 suruh nutupin jendela
- Jika kamu duduk pas di sebelah jendela dan orang yang duduk di sebelahmu meminta tolong untuk membuka/menutup jendela, berhati-hatilah. Teknik yang mereka gunakan saat kamu berdiri membuka/menutup jendela, mereka akan merogoh tas/kantongmu. Kalau cerita yang ini agak ngeri karena kondisi bis sepi meski di siang bolong. Untung si copet tak menemukan apa2 di kantong kecil tasku. Dan akhirnya loloslah...
- Jika kamu hendak naik bis dari stop point yang ramai atau turun bersama dengan beberapa orang lain, berhati-hatilah, jangan taruh tas di belakang tapi di depan. Saat kamu sibuk untuk bisa naik/turun, kamu gak akan sadar kalau resleting tasmu terbuka atau hape/dompet di kantongmu hilang. Nah ini kejadiannya waktu naik bis dari halte depan kampus UNS samping Solo Square. 2 orang sudah ngincer aku dari awal krn gerak2 geriknya mencurigakan, dan waktu naik bis yg berdesak2an aku merasa ada yang agak menarik2 dan berusaha membuka resleting ranselku. Secara reflek aku berontak dan mengibas2kan ransel agar dia kesulitan... Dan akhirnya loloslah...
Modus pura2 jatuh waktu turun bis
- Kalo yang satu ini kejadian pas aku kehilangan dompet berisi duit cukup banyak. Ketika akan turun bis, ada seorang bapak setengah baya yang terlihat hendak turun juga dan agak sempoyongan gara2 bisnya ngerem. Lha jebul kok ternyata dia buka resleting tasku. Jadi cerita sebenarnya aku tau persis wajah bapak yang mengambil dompetku. Yahhhh, semoga si bapak tipe bapak yang punya anak banyak dan butuh makan...
Teknik mengeroyok dan berbahasa aneh
- Kalau teknik yang satu ini mungkin bisa dikombinasikan dengan modus 1 dan modus 2. Kejadiannya juga bersamaan dengan yang kualami di modus 1. Karena masih penasaran setelah gagal menggunakan modus 1, saat aku akan turun si 2 orang copet yang tangannya pura2 disembunyikan dalam jaket yang digantungkan di lengan mereka ini memepet ku dan saling berbicara dalam bahasa kode mereka yang tak jelas. Saat itu aku tak sadar kalau jadi incaran copet, yang aku tahu cuma cepet2 mau turun keburu bisnya jalan. Dan akhirnya loloslah...
Cerita tentang nurani
Masih ingat pelajaran PPKn di jaman sekolah? Ibu guru mengajarkan, kalau berada di angkutan umum yang penuh dan ada wanita atau anak kecil yang tak kebagian tempat duduk. Berikanlah tempat duduk. Entahlah karena tingkat kesempatan untuk bersekolah yang susah di Indonesia atau karena ini jaman sudah tua dan moral manusia makin keriput saja, percayalah banyak orang yang tidak sadar akan melakukan kebaikan sekecil ini.
Cerita tentang pengamen dan sumbangan
Jangan terlalu pelit laahhh. Anggap saja jadi penyaluran berkat buat orang lain meski cuma 200 perak. Naaahhh, ada berbagai cerita antara aku dan pengamen.
Kejadian pertama, pengamennya temenku sendiri. Bukan teman dekat, hanya teman satu sekolah yang saling tau saja. Laaahhh, karena masa itu aku masih SMA dan kantong juga pas-pas an, aku tak memberi sepeser kepada si pengamen dan menolak memberi tanpa melihat muka si pengamen. Lhah kok jebul dia ternyata orang yang kutahu, dan dia nyeletak (bukan lagi nyeletuk karena nadanya memang keras) "Bravicky to kowe? Ra ngekei duit? Golek duit angel ek masamu!" :D
Kejadian kedua, kenalan sama mas Fredy. Waktu naik bis Purwodadi dari Tirtonadi, ada 2 pengamen muda di dalam bis. Waktu itu aku memakai gelang berentet-rentet. 1 pengamen sampai di jok ku dan kukasih recehan. Dia nyeletuk "Gelangnya bagus! Boleh minta satu?" Akhirnya kuberi satu dari rentetan gelang di tanganku dan dia berlalu, aku pun tak ambil pusing juga. Beberapa minggu kemudia waktu aku berangkat dari Purwodadi hampir masuk ke Tirtonadi, ada yang menyapa dan ternyata dia Mas Fredy si pengamen yg meminta gelang. Ngobrol2 dikitlah, lumayan ni pengamen keliatan gak buthek kaya pengamen Tirtonadi lainnya :D. Tapi sekarang aku tak pernah bertemu mas Fredy lagi. Entah si mas ini sekarang ada dimana.
Kalau yang ketiga ini kejadian reguler. Tak sekali dua kali kejadian. Tak usah bingung kalau tak punya receh. Kira2 siapakah orang yang punya receh terbanyak? Pengamen kan? Naaahhh, ketika anda tak punya receh, tukarkanlah uang kertas anda dengan uang receh hasil kerja pengamen. Hasil pertukarannya? Bisa anda salurkan untuk pengamen-pengamen lainnya :D
Jenis pengamen ada banyak sekali. Tak jarang hanya ecek-ecek saja. Beberapa sebenarnya sangatlah berbakat dan cukup menjadi hiburan yang berkualitas. Di jalur Solo-Purwodadi ada pengamen yang mungkin agak tak complete CPUnya, rambutnya gimbal, sering memakai kaos bercorak loreng2 ala TNI. Lagu yang dia nyanyikan sebenarnya lagu Kuncung nya Alm. Basuki. Tapi hanya sepatah dua patah kata yang disebut dengan pengulangan dan gaya yang khas :D
Lain cerita di area terminal Bawen. Ada pengamen yang nyanyinya lagu rohani, "Bahasa Cinta". Di area halte Kerten Solo, ada pengamen seger yang mainnya biola dan yang ini bener berkualitas coy! Area bangjo UMS Solo, ada pengamen dengan keterbelakangan mental yang hanya bergumam dan icrik icrik dengan tutup botol, tapi selalu terlihat bersemangat kala bekerja :). Lupa tepatnya, seingatku area Boyolali, ada pengamen yang memakai wayang dan ndalang ada juga yang baca puisi :)
Bagaimana cerita tentang sumbangan?
Nahhh, yang ini sih modusnya macam2. Yang paling aku heran di kawasan Klaten-Solo. Ada yang meminta sumbangan atas nama perkumpulan pengamen seKlaten yang hendak mengadakan sunatan masal. Aku tak tahu apakah ini terkategorikan penipuan atau tidak, tapi yang membuatku ilfil adalah di amplop yang diberikan tertulis acara akan diadakan tanggal sekian sekian sekian dan beberapa bulan setelah itu, tanggalnya diperbaharui, tapi dengan jeda yang tidak masuk akal. Naahh lhooo!!!
Ada cerita tentang kejahilanku di amplop seorang pengamen. Setelah amplop dibagikan, kubaca kata2 disitu dan ada satu kata menggelitik yang buatku mengesankan jika si peminta sumbangan ini tak mau kerja dan mau enaknya. Aku ingat pernah merevisi kata2 itu (sayang aku lupa detailnya). Yaahhh, paling juga hal2 seperti itu tidak akan diperhatikan, hanya kejahilanku dalam melihat sekitar saja.
Kejadian pertama, pengamennya temenku sendiri. Bukan teman dekat, hanya teman satu sekolah yang saling tau saja. Laaahhh, karena masa itu aku masih SMA dan kantong juga pas-pas an, aku tak memberi sepeser kepada si pengamen dan menolak memberi tanpa melihat muka si pengamen. Lhah kok jebul dia ternyata orang yang kutahu, dan dia nyeletak (bukan lagi nyeletuk karena nadanya memang keras) "Bravicky to kowe? Ra ngekei duit? Golek duit angel ek masamu!" :D
Kejadian kedua, kenalan sama mas Fredy. Waktu naik bis Purwodadi dari Tirtonadi, ada 2 pengamen muda di dalam bis. Waktu itu aku memakai gelang berentet-rentet. 1 pengamen sampai di jok ku dan kukasih recehan. Dia nyeletuk "Gelangnya bagus! Boleh minta satu?" Akhirnya kuberi satu dari rentetan gelang di tanganku dan dia berlalu, aku pun tak ambil pusing juga. Beberapa minggu kemudia waktu aku berangkat dari Purwodadi hampir masuk ke Tirtonadi, ada yang menyapa dan ternyata dia Mas Fredy si pengamen yg meminta gelang. Ngobrol2 dikitlah, lumayan ni pengamen keliatan gak buthek kaya pengamen Tirtonadi lainnya :D. Tapi sekarang aku tak pernah bertemu mas Fredy lagi. Entah si mas ini sekarang ada dimana.
Kalau yang ketiga ini kejadian reguler. Tak sekali dua kali kejadian. Tak usah bingung kalau tak punya receh. Kira2 siapakah orang yang punya receh terbanyak? Pengamen kan? Naaahhh, ketika anda tak punya receh, tukarkanlah uang kertas anda dengan uang receh hasil kerja pengamen. Hasil pertukarannya? Bisa anda salurkan untuk pengamen-pengamen lainnya :D
Jenis pengamen ada banyak sekali. Tak jarang hanya ecek-ecek saja. Beberapa sebenarnya sangatlah berbakat dan cukup menjadi hiburan yang berkualitas. Di jalur Solo-Purwodadi ada pengamen yang mungkin agak tak complete CPUnya, rambutnya gimbal, sering memakai kaos bercorak loreng2 ala TNI. Lagu yang dia nyanyikan sebenarnya lagu Kuncung nya Alm. Basuki. Tapi hanya sepatah dua patah kata yang disebut dengan pengulangan dan gaya yang khas :D
Lain cerita di area terminal Bawen. Ada pengamen yang nyanyinya lagu rohani, "Bahasa Cinta". Di area halte Kerten Solo, ada pengamen seger yang mainnya biola dan yang ini bener berkualitas coy! Area bangjo UMS Solo, ada pengamen dengan keterbelakangan mental yang hanya bergumam dan icrik icrik dengan tutup botol, tapi selalu terlihat bersemangat kala bekerja :). Lupa tepatnya, seingatku area Boyolali, ada pengamen yang memakai wayang dan ndalang ada juga yang baca puisi :)
Bagaimana cerita tentang sumbangan?
Nahhh, yang ini sih modusnya macam2. Yang paling aku heran di kawasan Klaten-Solo. Ada yang meminta sumbangan atas nama perkumpulan pengamen seKlaten yang hendak mengadakan sunatan masal. Aku tak tahu apakah ini terkategorikan penipuan atau tidak, tapi yang membuatku ilfil adalah di amplop yang diberikan tertulis acara akan diadakan tanggal sekian sekian sekian dan beberapa bulan setelah itu, tanggalnya diperbaharui, tapi dengan jeda yang tidak masuk akal. Naahh lhooo!!!
Ada cerita tentang kejahilanku di amplop seorang pengamen. Setelah amplop dibagikan, kubaca kata2 disitu dan ada satu kata menggelitik yang buatku mengesankan jika si peminta sumbangan ini tak mau kerja dan mau enaknya. Aku ingat pernah merevisi kata2 itu (sayang aku lupa detailnya). Yaahhh, paling juga hal2 seperti itu tidak akan diperhatikan, hanya kejahilanku dalam melihat sekitar saja.
Cerita tentang penipuan
Salah satu bentuk penipuan dalam kotak berjalan yang pernah aku lihat adalah burung yang bisa bernyanyi. Burungnya sih burung beneran, tapi bisa nyanyinya itu yang jadi modus. Pelakunya beberapa orang nih, keroyokan, antara 3-4 orang. Pas di tengah bis sedang berjalan, tiba2 ada kejadian mengagetkan tentang penumpang yang membawa burung dan burungnya hendak lepas. Naaahh, di moment inilah mereka mulai mencuri perhatian para penumpang. Setelah perhatian para penumpang tertuju pada si bapak dan burungnya, si bapak empunya burung lalu bercerita tentang kehebatan si burung dan kemudian ditimpali dengan respon yang seru dan bersahabat oleh penumpang lainnya yang ternyata adalah komplotan sesama penipu.
Diceritaken si burung ini bisa bernyanyi (lagu apa ya lupa? Garuda Pancasila kalo tak salah) dan dia sudah menang kontes. Sebenarnya sih itu suara nyanyian si bapak penipu, bukan nyanyian si burung. Para bapak2 penipu ini saling menimpali satu sama lain untuk memberi kesan pada penumpang lain kalau burung mereka tersebut hebat. Akhirnya akan ada satu penumpang yang terlena dan menawar untuk membeli burung tersebut. Kisaran harga yang ditawarkan mendekati 500rb rupiah. Jika si calon korban menawar dengan harga rendah, maka komplotan penipu yang lain akan mengompori dengan bilang "Wah ini sudah menang kontes lho mas/mbak! Kalo di pasaran gak akan boleh harga segitu! Udah segitu aja ambil, gak mahal itu!"
Singkat cerita, si korban tertipu pun memutuskan untuk membeli. Aku sudah berkali2 menyaksikan penipuan ini dan yang masih aku ingat seorang wanita yang membeli burung tipuan itu seharga Rp300.000,-. Setelah uang diberikan, burung berpindah ke tangan korban, komplotan ini akan menunggu barang 1-2 menit bis berjalan dan turun dari bis secara bersamaan dari 2 pintu yang berbeda, depan dan belakang. Si korban pun melongo karena mendapati si burung tak bisa bernyanyi semerdu lipsing bapak2 penipu yang telah lari tak terlacak lagi.
Diceritaken si burung ini bisa bernyanyi (lagu apa ya lupa? Garuda Pancasila kalo tak salah) dan dia sudah menang kontes. Sebenarnya sih itu suara nyanyian si bapak penipu, bukan nyanyian si burung. Para bapak2 penipu ini saling menimpali satu sama lain untuk memberi kesan pada penumpang lain kalau burung mereka tersebut hebat. Akhirnya akan ada satu penumpang yang terlena dan menawar untuk membeli burung tersebut. Kisaran harga yang ditawarkan mendekati 500rb rupiah. Jika si calon korban menawar dengan harga rendah, maka komplotan penipu yang lain akan mengompori dengan bilang "Wah ini sudah menang kontes lho mas/mbak! Kalo di pasaran gak akan boleh harga segitu! Udah segitu aja ambil, gak mahal itu!"
Singkat cerita, si korban tertipu pun memutuskan untuk membeli. Aku sudah berkali2 menyaksikan penipuan ini dan yang masih aku ingat seorang wanita yang membeli burung tipuan itu seharga Rp300.000,-. Setelah uang diberikan, burung berpindah ke tangan korban, komplotan ini akan menunggu barang 1-2 menit bis berjalan dan turun dari bis secara bersamaan dari 2 pintu yang berbeda, depan dan belakang. Si korban pun melongo karena mendapati si burung tak bisa bernyanyi semerdu lipsing bapak2 penipu yang telah lari tak terlacak lagi.
Cerita tentang cinta
Beribu maaf kuhaturkan, karena cerita tentang cinta di dalam bis ini bukanlah antara aku dan mas Fredy atau cerita pertemuan romantis antara aku dan seorang lelaki. Cerita cinta dalam bis umum adalah cerita cinta satu malam.... Eittssss, jangan salah praduga dulu. Cinta satu malamnya memang tak pernah terjadi, hanya indikasi mengarah kesana.
Sebenarnya ini lebih tepat dikatakan sebagai pelecehan seksual skala ringan. Kejadian pertama, saat itu aku masih SMA dan pulang sekolah naik bis dari terminal Purwodadi. Ketika itu aku bersama dengan temanku Cilpong dan aku duduk di sebelah pinggir sementara dia di dekat jendela. Kami asik dengan lamunan masing2. Bis belum berangkat dan ada satu penjual asongan yang menjajakan dagangan. Sesampainya di jokku, si mas asongan ini menyandar dan (maaf) menggosokkan bagian vitalnya ke lengan kananku yang terposisi sejajar dengan bagian itunya. Pertama aku takut sekali, itu pertamakalinya terjadi padaku dan tak berani melawan terang-terangan. Kemudian aku bergerak agak kedepan seolah membenarkan posisi duduk dan si mas asongan itu berlalu ke belakang. Sampai saat ini aku tak tahu apakah temanku Cilpong menyadari kejadian itu atau tidak :D
Kejadian kedua dengan bapak2 hidung belang yang duduk disebelahku. Nah, saat duduk posisi tangannya terlipat atau kata orang Jawa sedeku (tapi tanpa meja dan tanpa mirengake bu guru :D). Dengan posisi yang terlipat ini, jemari si bapak meraba (maaf) bagian samping payudara saya. Aku lupa tepatnya kapan, tapi saat itu aku sudah lebih mature dan sudah lepas SMA. Karena sudah pernah mengalami kejadian sejenis, kali ini aku berani negor si bapak, "Pak, njenengan ampun kurang ajar nggih!!" Si bapak yang daritadi pura2 tidur ini tak bergeming, tak memberi respon apapun. Ketika itu aku tak lantas berpindah tempat duduk dan tak usah tanya kenapa, aku sendiri juga tak tahu. Yang jelas sepanjang perjalanan si bapak tidak berani macam2 lagi, dan akupun mengambil posisi aman dengan tidak bersandar pada tempat duduk yang bisa memudahkan aksesnya untuk merabaku dengan tangannya yang berlipat.
Kejadian ketiga dengan kondektur yang wajahnya sudah lama aku kenal (tapi gak ada istilah keceng2an yaaa, yaela, guweh kan buka cewe cabe-cabean). Ketika aku akan turun dari bis, si kondektur ini berbisik "Kamu mau nggak, kuajak satu malam ke Tawangmangu?".. Waikiii!!! Tipsnya kalo nemu hidung belang macam begini, tak perlu direspon nyolot2, tak ada gunanya juga. Cukup tenang saja dan tak perlu dijawab. Karena kejadiannya ini pas turun jadi cuma sekejap mata dan aku bisa lari dari si hidung belang. Tapi jika seandainya kejadiannya pas kamu masih duduk untuk waktu yang agak lama (biasanya kalo ada cewe duduk sendirian nih), tak perlu nyolot juga, tak menyelesaikan masalah, cukuplah dengan menolak secara halus. Jika ia masih ngeyel, dicuekin saja, tak usah ditanggapi, palingkan pandangan ke hal lain seperti melihat pemandangan di luar kaca. Jadi apakah nyolot benar2 tak perlu? Hmmmm... Jika si penggoda cuma di mulut saja, itu masih tolerable. Lain hal kalo sudah seperti cerita pertama dan keduaku, karena itu sudah main fisik coy!! Tegurlah dengan nada yang berwibawa, karena perempuan berwibawa lebih membikin merinding daripada perempuan nyolot, hahahahah.
Sebenarnya ini lebih tepat dikatakan sebagai pelecehan seksual skala ringan. Kejadian pertama, saat itu aku masih SMA dan pulang sekolah naik bis dari terminal Purwodadi. Ketika itu aku bersama dengan temanku Cilpong dan aku duduk di sebelah pinggir sementara dia di dekat jendela. Kami asik dengan lamunan masing2. Bis belum berangkat dan ada satu penjual asongan yang menjajakan dagangan. Sesampainya di jokku, si mas asongan ini menyandar dan (maaf) menggosokkan bagian vitalnya ke lengan kananku yang terposisi sejajar dengan bagian itunya. Pertama aku takut sekali, itu pertamakalinya terjadi padaku dan tak berani melawan terang-terangan. Kemudian aku bergerak agak kedepan seolah membenarkan posisi duduk dan si mas asongan itu berlalu ke belakang. Sampai saat ini aku tak tahu apakah temanku Cilpong menyadari kejadian itu atau tidak :D
Kejadian kedua dengan bapak2 hidung belang yang duduk disebelahku. Nah, saat duduk posisi tangannya terlipat atau kata orang Jawa sedeku (tapi tanpa meja dan tanpa mirengake bu guru :D). Dengan posisi yang terlipat ini, jemari si bapak meraba (maaf) bagian samping payudara saya. Aku lupa tepatnya kapan, tapi saat itu aku sudah lebih mature dan sudah lepas SMA. Karena sudah pernah mengalami kejadian sejenis, kali ini aku berani negor si bapak, "Pak, njenengan ampun kurang ajar nggih!!" Si bapak yang daritadi pura2 tidur ini tak bergeming, tak memberi respon apapun. Ketika itu aku tak lantas berpindah tempat duduk dan tak usah tanya kenapa, aku sendiri juga tak tahu. Yang jelas sepanjang perjalanan si bapak tidak berani macam2 lagi, dan akupun mengambil posisi aman dengan tidak bersandar pada tempat duduk yang bisa memudahkan aksesnya untuk merabaku dengan tangannya yang berlipat.
Kejadian ketiga dengan kondektur yang wajahnya sudah lama aku kenal (tapi gak ada istilah keceng2an yaaa, yaela, guweh kan buka cewe cabe-cabean). Ketika aku akan turun dari bis, si kondektur ini berbisik "Kamu mau nggak, kuajak satu malam ke Tawangmangu?".. Waikiii!!! Tipsnya kalo nemu hidung belang macam begini, tak perlu direspon nyolot2, tak ada gunanya juga. Cukup tenang saja dan tak perlu dijawab. Karena kejadiannya ini pas turun jadi cuma sekejap mata dan aku bisa lari dari si hidung belang. Tapi jika seandainya kejadiannya pas kamu masih duduk untuk waktu yang agak lama (biasanya kalo ada cewe duduk sendirian nih), tak perlu nyolot juga, tak menyelesaikan masalah, cukuplah dengan menolak secara halus. Jika ia masih ngeyel, dicuekin saja, tak usah ditanggapi, palingkan pandangan ke hal lain seperti melihat pemandangan di luar kaca. Jadi apakah nyolot benar2 tak perlu? Hmmmm... Jika si penggoda cuma di mulut saja, itu masih tolerable. Lain hal kalo sudah seperti cerita pertama dan keduaku, karena itu sudah main fisik coy!! Tegurlah dengan nada yang berwibawa, karena perempuan berwibawa lebih membikin merinding daripada perempuan nyolot, hahahahah.
Tips-tips lain dari cerita Ciki dan bis umum
Ketika kamu berada di bis umum, praktekkanlah hal-hal dibawah ini:
- Jika kamu melihat penjaja koran di bus umum, belilah satu koran. Tak perlu mahal-mahal. Ada kok koran lokal seharga Rp 1.000,-. Kalau perjalananmu panjang, lumayan bisa buat bacaan. Kalau hari sedang panas-panasnya, lumayan bisa buat kipas kipas. Dan saking murahnya, satu koran bisa dibagi dengan penumpang di sebelahmu.
- Jika kamu mendapat jatah duduk dan kamu dalam keadaan bugar dan memungkinkan, berikanlah tempat dudukmu untuk orang tua, ibu2, atau anak2 kecil yang berdiri.
- Kalau ibu2 yang menggendong anak kecil tidak mau duduk, tawarkanlah untuk memangku anaknya. (Tapi kalo tips yang satu ini tak bisa ku jalani, aku mending berdiri saja deh daripada mangku anak orang, takut kalo dimabokin dan anaknya rewel sih :D)
- Jika bis sesak dan kamu berdiri, jangan menganggap lorong bis adalah runway. Janganlah malas untuk bergeser. Acapkali kejadian karena di bagian tengah si penumpang tak mau bergeser ke tengah jadi penumpang lain harus berdesakan di bagian depan/belakang bahkan di pintu2 bis. Atau, si penumpang mau cari nyamannya sendiri, tidak mau bergeser sedikitpun dan tidak mau berbagi pegangan untuk penumpang lain. Tak perlu menunggu didikte dan dimintai, jika penumpang di sebelahmu tak menemukan spot nyamannya, janganlah malas untuk berbagi space dengannya.
- Jika penumpang asing di sebelahmu memulai pembicaraan yang tak kau suka apalagi bernada flirting. Jangan merasa tak enak untuk mengacuhkan atau berpindah tempat duduk. 75% dari 100% percakapan dengan orang asing dalam bis yang kualami merupakan percakapan yang tak bermutu!
- Jangan pernah menggendong ransel/menyelempangkan tas ke bagian belakang! Dan jangan menaruh hape/dompet di kantong celana/jaket dan tempat2 yang mudah diraih! Rawan copet!
- Jika kamu mendapat jatah tempat duduk dan di sampingmu ada seseorang berdiri membawa barang yang agak mengganggu atau merangsek space bersandarmu, janganlah marah! Coba posisikan dirimu jika kamu berdiri di tempat dia. Kalau aku sendiri selalu berusaha membuat nyaman semua, berdiri memang tak enak dan serba susah jadi dimaklumi saja kalaupun kita duduk agak terganggu. Dan ketika aku berdiri pun sebisa mungkin kuusahakan agar orang yang duduk dihadapanku tidak terganggu dengan keberadaanku atau barang2ku.
- Jangan tergesa-gesa dan jangan terlalu heboh. Santai saja, jangan kemrungsung. Biasanya orang-orang yang kemrungsung dan telalu heboh rawan jadi sasaran asongan yang memaksakan dagangan dengan cara halus tapi mematikan dan rawan tindak penipuan.
Wwuuuuaahhhhh, panjaaang sekali ini jadinya... Memang cerita dari bis umum yang kualami sangatlah beraneka ragam. Jika ada waktu membaca sampai di bagian penutup ini, sempatkanlah juga membaca Berbuat baik itu konyol dan Ekonomi Purwodadi - Solo.
Mungkin ada kejadian2 kecil lain yang terjadi dan akan terjadi di mas mendatang. Bukankah banyak hal yang bisa dinikmati dan dimaknai dari melihat sekitar, melihat sekitar, melihat sekitar,... melihat diri :)
Gusti Punya Lesson Plan nya Sendiri
Hidup di dunia fana memang penuh ujian
Tapi santai saja!
Ujiannya tak seperti dalam UAS
Tak semua pertanyaan harus terjawab
Jadi tak usah ngotot mencaritahu semua jawaban
Apalagi ngotot mencari jawaban yang paling benar
Atau ngotot mencari jawaban yang melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal
Tak ada yang akan memberimu nilai jelek,
jika kertas jawabanmu ada yang kosong
Gusti mengajar dan menilai dengan caranya sendiri
Yang tak pernah kita tahu standarnya
Mungkin saja tak ada nilai mutlak
1+1 bisa jadi =5
Kita bukan siswa maha-harus-tahu
atau siswa maha-harus-lulus
Kita hanyalah siswa maha-harus-belajar
dan siswa maha-harus-berproses
Tapi santai saja!
Ujiannya tak seperti dalam UAS
Tak semua pertanyaan harus terjawab
Jadi tak usah ngotot mencaritahu semua jawaban
Apalagi ngotot mencari jawaban yang paling benar
Atau ngotot mencari jawaban yang melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal
Tak ada yang akan memberimu nilai jelek,
jika kertas jawabanmu ada yang kosong
Gusti mengajar dan menilai dengan caranya sendiri
Yang tak pernah kita tahu standarnya
Mungkin saja tak ada nilai mutlak
1+1 bisa jadi =5
Kita bukan siswa maha-harus-tahu
atau siswa maha-harus-lulus
Kita hanyalah siswa maha-harus-belajar
dan siswa maha-harus-berproses
Cerita Ciki dan Bis Umum
Aku paling suka naik bis.....
Rute rutin pertamaku dulu adalah rumah-Purwodadi, waktu masih jaman SMA nglajo sampe Purwodadi kota. Anak-anak lain sih hobinya naik bis RELA -bis kebanggaan jalur SoloPurwodadi dengan lambang khas huruf R rajawali empunya RCTI OKE, ahahahha. Teman-teman suka karena yaaaaa gengsinya gede kalo naik bis Rela, karena wussss wussss, karena bisnya molek-molek. Anak gahol Solo-Purwodadi pasti hafal bis Rela apa saja. Sukanya ngapalin subtitle bis di bagian kaca depan atau belakang bis. Apalagi cewe cabe-cabean kala itu pasti hafal diluar kepala plus punya keahlian ngecengin dan dikecengin awak busnya, ahahhaha.
Rute rutin pertamaku dulu adalah rumah-Purwodadi, waktu masih jaman SMA nglajo sampe Purwodadi kota. Anak-anak lain sih hobinya naik bis RELA -bis kebanggaan jalur SoloPurwodadi dengan lambang khas huruf R rajawali empunya RCTI OKE, ahahahha. Teman-teman suka karena yaaaaa gengsinya gede kalo naik bis Rela, karena wussss wussss, karena bisnya molek-molek. Anak gahol Solo-Purwodadi pasti hafal bis Rela apa saja. Sukanya ngapalin subtitle bis di bagian kaca depan atau belakang bis. Apalagi cewe cabe-cabean kala itu pasti hafal diluar kepala plus punya keahlian ngecengin dan dikecengin awak busnya, ahahhaha.
Tapi bis yang paling kusuka adalah bis Sedayu kuning. Sudah tua egrek-egrek, awak bisnya juga tua-tua :D. Jalannya pelan, seringkali banyak bangku kosong dan gak perlu desak2an. Gengsinya rendah nih kalo bis kaya gini. Tapi udah jadi langgananku karena aku gak perlu desak2an, bisa disambi belajar dalam bis (red: saksi bisu sistem kebut semalam). Bahkan kalaupun aku masih di seberang jalan atau baru keluar selangkah dari pintu rumah, pasti sopirnya tetep berhenti dan menungguku, hahahah. Gak bakal kejadian deh kalo sama bisa RELA.
Nah ada lagi ini cerita satu bis unik. Jalurnya sih bukan Solo-Pwd tapi dari KedungOmbo-Pwd. Bisnya kecil tapi dua pintu. Kalo yang ini sih bis desperation. Cuma naik kalo bener2 desperate gak dapet bis, ahhahah.
Kalo rute rumah-Purwodadi ini gak pernah lah ada kejadian kesasar, lha wong rumah saya di jalur Solo-Pwd pas. Turun bis langsung masuk rumah, keluar rumah langsung naik bis, ahahah.
Rute rutin keduaku saat aku mulai tinggal di Solo. Nahhhh, kalo pas ini bisnya sudah semakin bervariasi. Sayangnya ketika itu tahun 2006 menjelang 2007 dan bis
Sedayu kuning sudah tidak ada lagi :(. Jadi lebih seringnya naik bis Rela, sampai Tirtonadi oper bis Budhi Rahayu, bis kecil jurusan Solo-Boyolali.
Selama setahun di Solo, kalo kesasar ya cuma 3 kali sih. Tapi yang paling berkesan adalah karena aku kecopetan dua kali dan hampir kecopetan beberapa kali. Tapi benar-benar pengalaman yang berharga karena setelahnya jadi sangat aware dengan yang namanya copet.
Selama setahun di Solo, kalo kesasar ya cuma 3 kali sih. Tapi yang paling berkesan adalah karena aku kecopetan dua kali dan hampir kecopetan beberapa kali. Tapi benar-benar pengalaman yang berharga karena setelahnya jadi sangat aware dengan yang namanya copet.
Rute rutin ketigaku saat aku mulai tinggal di Ungaran. Naiknya? Ya tetep bis Rela. Sampe Tirtonadi oper bis ke arah Semarang. Jaman itu jaman kerja pabrikan dan bawaannya hemat jadi naiknya selalu ekonomi.
Rute rutin keempatku saat aku mulai kuliah lagi di Salatiga. Rute yang masih sama seperti jaman kerja pabrikan tapi paling favorit karena yang berlangsung paling lama dan karena statusnya udah anak kuliahan jadi kelas bisnya naik dikit, heheheh. Bisnya? Ya masih tetap saja bis Rela yang masih saja eksis. Tapi ada bis baru ni namanya GANDHOS ABADI, yang katanya milik bos rongsok. Akhirnya dapet bis idola lagi, bis Safari/Taruna AC Solo-Semarang, yang warnanya hijau seger seger gimana gituuu. Bis favorit karena masa itu baru anyar-anyarnya bis Safari/Taruna AC keluar dengan armada yang gressss tapi harganya lebih murah daripada bis lama PO. Rajawali.
Rute rutin kelimaku saat aku sudah lulus kuliah dan mulai kerja di Yogyakarta. Masih saja sekian tahun dan bis Rela tetap jadi primadona Solo-Purwodadi meski tak pernah ada peningkatan fasilitas AC. Sampai Tirtonadi oper bis Surabaya-Jogja. Kalau naik bis Solo-Jogja adanya ekonomi tapi bukannya lebih murah malah lebih mahal dan lebih lama plus
gak berasa nyaman
sama sekali. Jadi kalo dari Solo ke Jogja mending naik yang Suroboyonan. Lebih cepat, murah, dan nyaman. Tapi bisanya naik cuma dari terminal. Sudah aturan umum kalo bis Suroboyonan tak boleh menaikkan penumpang di jalan, bisa bisa dibully sama bis Ekonomi Solo-Jogja.
Di rute kelima yang masih kujalani sampai sekarang ini ada yang membuat terasa berbeda, yaitu karena mulai mengenal bus TransJogja. Jauh dekat keliling Jogja cuma Rp 3.000,00. Terkadang tak bisa diandalkan sih, karena masih satu lajur dengan kendaraan lain jadi sering telat dan terjebak macet pula.
Well, sudah hampir 10 tahun aku punya rute rutin naik bis. Banyak pengalaman dan cerita yang terjadi, diterusin di postingan lainnya yaaa tentang berbagai hal yang kutemui dari dan di berbagai bus yang selama ini aku tumpangi... Terimakasih sudah mampir :)
Di rute kelima yang masih kujalani sampai sekarang ini ada yang membuat terasa berbeda, yaitu karena mulai mengenal bus TransJogja. Jauh dekat keliling Jogja cuma Rp 3.000,00. Terkadang tak bisa diandalkan sih, karena masih satu lajur dengan kendaraan lain jadi sering telat dan terjebak macet pula.
Well, sudah hampir 10 tahun aku punya rute rutin naik bis. Banyak pengalaman dan cerita yang terjadi, diterusin di postingan lainnya yaaa tentang berbagai hal yang kutemui dari dan di berbagai bus yang selama ini aku tumpangi... Terimakasih sudah mampir :)
Kau Indah Dalam Telanjangmu
Ini cerita yang sempurna
tentang bagaimana ketidaksempurnaan bicara
Tentang bagaimana kita telanjang
Masihkah harus ditutupi?
Bekas luka begitu indah merekam sejuta cerita
Tentang bagaimana kita di hulu,
dan mengalir ke hilirnya
Batu yang mengoyak tertunduk kalah
Ketika jiwa raga melebur dalam samudera
Tentang bagaimana kita telanjang
Masihkah kau melihat putih sebagai suci?
Noda-noda memberi kita warna
Karena kesempurnaan putih mati,
saat ketulusan hitam dilahirkan
Tentang bagaimana kita telanjang
Tidaklah kulit mereka menyelimuti belulangmu
Tidaklah darah mereka mengaliri nadimu
Tidaklah dua jantung berdetak dalam satu raga
Tidak ada mereka ketika kau telanjang
Sibakkan kain yang menutupi
Karena kau begitu indah dalam rupa telanjangmu...
tentang bagaimana ketidaksempurnaan bicara
Tentang bagaimana kita telanjang
Masihkah harus ditutupi?
Bekas luka begitu indah merekam sejuta cerita
Tentang bagaimana kita di hulu,
dan mengalir ke hilirnya
Batu yang mengoyak tertunduk kalah
Ketika jiwa raga melebur dalam samudera
Tentang bagaimana kita telanjang
Masihkah kau melihat putih sebagai suci?
Noda-noda memberi kita warna
Karena kesempurnaan putih mati,
saat ketulusan hitam dilahirkan
Tentang bagaimana kita telanjang
Tidaklah kulit mereka menyelimuti belulangmu
Tidaklah darah mereka mengaliri nadimu
Tidaklah dua jantung berdetak dalam satu raga
Tidak ada mereka ketika kau telanjang
Sibakkan kain yang menutupi
Karena kau begitu indah dalam rupa telanjangmu...
Subscribe to:
Comments (Atom)