Seperti janji yang sudah lalu, hendak menyambung tentang Cerita Ciki dan Bis Umum
Nahhhh, dari perjalanan panjang bertahun2 menghabiskan umur di kotak berjalan bernama bus, banyak pengalaman dan cerita yang muncul. Beberapa cerita yang terekam dan tips yang bisa ditarik dari beberapa cerita yang kupunya adalah:
Cerita tentang copet
Pernah kecopetan di bis umum? Aku pernah! Bahkan aku pernah kecopetan 2 kali dan sekarang jadi parno sendiri kalo naik bis bawa barang berharga atau uang yang agak berlebih. Kecopetan pertamaku tahun 2006. Barang yang hilang adalah handphone. Ketika itu aku masih pakai Sony Ericsson, ahhhaha. Serinya lupa! Seri jadul yang keluar sebelum seri Walkman. Jaman sekarang hape seperti itu tak ada apa2nya, tapi dulu ya sudah lumayan lah kalo bisa buat kamera dan mp3 player, hehehe. The silly thing is, gara2 aku pakai gantungan hape dan si hape bisa dengan mudahnya ditarik keluar dari saku celana oleh si pencopet.
Kecopetan yang kedua dompet berisi uang hampir setengah juta yang rencanannya buat bayar sekolah. Kejadiannya gara2 sudah mau turun di Tirtonadi aku ambil uang kecil dari dompet dan dompet ku taruh di tas bagian saku depan yang kecil.
Setelah dua beberapa kejadian lainnya, semakin aware dengan keberadaan copet. Dari beragam modus dan teknik yang dipakai, yang pernah kualami antara lain... yukk mari simak:
Kecopetan yang kedua dompet berisi uang hampir setengah juta yang rencanannya buat bayar sekolah. Kejadiannya gara2 sudah mau turun di Tirtonadi aku ambil uang kecil dari dompet dan dompet ku taruh di tas bagian saku depan yang kecil.
Setelah dua beberapa kejadian lainnya, semakin aware dengan keberadaan copet. Dari beragam modus dan teknik yang dipakai, yang pernah kualami antara lain... yukk mari simak:
Modus pura2 suruh nutupin jendela
- Jika kamu duduk pas di sebelah jendela dan orang yang duduk di sebelahmu meminta tolong untuk membuka/menutup jendela, berhati-hatilah. Teknik yang mereka gunakan saat kamu berdiri membuka/menutup jendela, mereka akan merogoh tas/kantongmu. Kalau cerita yang ini agak ngeri karena kondisi bis sepi meski di siang bolong. Untung si copet tak menemukan apa2 di kantong kecil tasku. Dan akhirnya loloslah...
- Jika kamu hendak naik bis dari stop point yang ramai atau turun bersama dengan beberapa orang lain, berhati-hatilah, jangan taruh tas di belakang tapi di depan. Saat kamu sibuk untuk bisa naik/turun, kamu gak akan sadar kalau resleting tasmu terbuka atau hape/dompet di kantongmu hilang. Nah ini kejadiannya waktu naik bis dari halte depan kampus UNS samping Solo Square. 2 orang sudah ngincer aku dari awal krn gerak2 geriknya mencurigakan, dan waktu naik bis yg berdesak2an aku merasa ada yang agak menarik2 dan berusaha membuka resleting ranselku. Secara reflek aku berontak dan mengibas2kan ransel agar dia kesulitan... Dan akhirnya loloslah...
Modus pura2 jatuh waktu turun bis
- Kalo yang satu ini kejadian pas aku kehilangan dompet berisi duit cukup banyak. Ketika akan turun bis, ada seorang bapak setengah baya yang terlihat hendak turun juga dan agak sempoyongan gara2 bisnya ngerem. Lha jebul kok ternyata dia buka resleting tasku. Jadi cerita sebenarnya aku tau persis wajah bapak yang mengambil dompetku. Yahhhh, semoga si bapak tipe bapak yang punya anak banyak dan butuh makan...
Teknik mengeroyok dan berbahasa aneh
- Kalau teknik yang satu ini mungkin bisa dikombinasikan dengan modus 1 dan modus 2. Kejadiannya juga bersamaan dengan yang kualami di modus 1. Karena masih penasaran setelah gagal menggunakan modus 1, saat aku akan turun si 2 orang copet yang tangannya pura2 disembunyikan dalam jaket yang digantungkan di lengan mereka ini memepet ku dan saling berbicara dalam bahasa kode mereka yang tak jelas. Saat itu aku tak sadar kalau jadi incaran copet, yang aku tahu cuma cepet2 mau turun keburu bisnya jalan. Dan akhirnya loloslah...
Cerita tentang nurani
Masih ingat pelajaran PPKn di jaman sekolah? Ibu guru mengajarkan, kalau berada di angkutan umum yang penuh dan ada wanita atau anak kecil yang tak kebagian tempat duduk. Berikanlah tempat duduk. Entahlah karena tingkat kesempatan untuk bersekolah yang susah di Indonesia atau karena ini jaman sudah tua dan moral manusia makin keriput saja, percayalah banyak orang yang tidak sadar akan melakukan kebaikan sekecil ini.
Cerita tentang pengamen dan sumbangan
Jangan terlalu pelit laahhh. Anggap saja jadi penyaluran berkat buat orang lain meski cuma 200 perak. Naaahhh, ada berbagai cerita antara aku dan pengamen.
Kejadian pertama, pengamennya temenku sendiri. Bukan teman dekat, hanya teman satu sekolah yang saling tau saja. Laaahhh, karena masa itu aku masih SMA dan kantong juga pas-pas an, aku tak memberi sepeser kepada si pengamen dan menolak memberi tanpa melihat muka si pengamen. Lhah kok jebul dia ternyata orang yang kutahu, dan dia nyeletak (bukan lagi nyeletuk karena nadanya memang keras) "Bravicky to kowe? Ra ngekei duit? Golek duit angel ek masamu!" :D
Kejadian kedua, kenalan sama mas Fredy. Waktu naik bis Purwodadi dari Tirtonadi, ada 2 pengamen muda di dalam bis. Waktu itu aku memakai gelang berentet-rentet. 1 pengamen sampai di jok ku dan kukasih recehan. Dia nyeletuk "Gelangnya bagus! Boleh minta satu?" Akhirnya kuberi satu dari rentetan gelang di tanganku dan dia berlalu, aku pun tak ambil pusing juga. Beberapa minggu kemudia waktu aku berangkat dari Purwodadi hampir masuk ke Tirtonadi, ada yang menyapa dan ternyata dia Mas Fredy si pengamen yg meminta gelang. Ngobrol2 dikitlah, lumayan ni pengamen keliatan gak buthek kaya pengamen Tirtonadi lainnya :D. Tapi sekarang aku tak pernah bertemu mas Fredy lagi. Entah si mas ini sekarang ada dimana.
Kalau yang ketiga ini kejadian reguler. Tak sekali dua kali kejadian. Tak usah bingung kalau tak punya receh. Kira2 siapakah orang yang punya receh terbanyak? Pengamen kan? Naaahhh, ketika anda tak punya receh, tukarkanlah uang kertas anda dengan uang receh hasil kerja pengamen. Hasil pertukarannya? Bisa anda salurkan untuk pengamen-pengamen lainnya :D
Jenis pengamen ada banyak sekali. Tak jarang hanya ecek-ecek saja. Beberapa sebenarnya sangatlah berbakat dan cukup menjadi hiburan yang berkualitas. Di jalur Solo-Purwodadi ada pengamen yang mungkin agak tak complete CPUnya, rambutnya gimbal, sering memakai kaos bercorak loreng2 ala TNI. Lagu yang dia nyanyikan sebenarnya lagu Kuncung nya Alm. Basuki. Tapi hanya sepatah dua patah kata yang disebut dengan pengulangan dan gaya yang khas :D
Lain cerita di area terminal Bawen. Ada pengamen yang nyanyinya lagu rohani, "Bahasa Cinta". Di area halte Kerten Solo, ada pengamen seger yang mainnya biola dan yang ini bener berkualitas coy! Area bangjo UMS Solo, ada pengamen dengan keterbelakangan mental yang hanya bergumam dan icrik icrik dengan tutup botol, tapi selalu terlihat bersemangat kala bekerja :). Lupa tepatnya, seingatku area Boyolali, ada pengamen yang memakai wayang dan ndalang ada juga yang baca puisi :)
Bagaimana cerita tentang sumbangan?
Nahhh, yang ini sih modusnya macam2. Yang paling aku heran di kawasan Klaten-Solo. Ada yang meminta sumbangan atas nama perkumpulan pengamen seKlaten yang hendak mengadakan sunatan masal. Aku tak tahu apakah ini terkategorikan penipuan atau tidak, tapi yang membuatku ilfil adalah di amplop yang diberikan tertulis acara akan diadakan tanggal sekian sekian sekian dan beberapa bulan setelah itu, tanggalnya diperbaharui, tapi dengan jeda yang tidak masuk akal. Naahh lhooo!!!
Ada cerita tentang kejahilanku di amplop seorang pengamen. Setelah amplop dibagikan, kubaca kata2 disitu dan ada satu kata menggelitik yang buatku mengesankan jika si peminta sumbangan ini tak mau kerja dan mau enaknya. Aku ingat pernah merevisi kata2 itu (sayang aku lupa detailnya). Yaahhh, paling juga hal2 seperti itu tidak akan diperhatikan, hanya kejahilanku dalam melihat sekitar saja.
Kejadian pertama, pengamennya temenku sendiri. Bukan teman dekat, hanya teman satu sekolah yang saling tau saja. Laaahhh, karena masa itu aku masih SMA dan kantong juga pas-pas an, aku tak memberi sepeser kepada si pengamen dan menolak memberi tanpa melihat muka si pengamen. Lhah kok jebul dia ternyata orang yang kutahu, dan dia nyeletak (bukan lagi nyeletuk karena nadanya memang keras) "Bravicky to kowe? Ra ngekei duit? Golek duit angel ek masamu!" :D
Kejadian kedua, kenalan sama mas Fredy. Waktu naik bis Purwodadi dari Tirtonadi, ada 2 pengamen muda di dalam bis. Waktu itu aku memakai gelang berentet-rentet. 1 pengamen sampai di jok ku dan kukasih recehan. Dia nyeletuk "Gelangnya bagus! Boleh minta satu?" Akhirnya kuberi satu dari rentetan gelang di tanganku dan dia berlalu, aku pun tak ambil pusing juga. Beberapa minggu kemudia waktu aku berangkat dari Purwodadi hampir masuk ke Tirtonadi, ada yang menyapa dan ternyata dia Mas Fredy si pengamen yg meminta gelang. Ngobrol2 dikitlah, lumayan ni pengamen keliatan gak buthek kaya pengamen Tirtonadi lainnya :D. Tapi sekarang aku tak pernah bertemu mas Fredy lagi. Entah si mas ini sekarang ada dimana.
Kalau yang ketiga ini kejadian reguler. Tak sekali dua kali kejadian. Tak usah bingung kalau tak punya receh. Kira2 siapakah orang yang punya receh terbanyak? Pengamen kan? Naaahhh, ketika anda tak punya receh, tukarkanlah uang kertas anda dengan uang receh hasil kerja pengamen. Hasil pertukarannya? Bisa anda salurkan untuk pengamen-pengamen lainnya :D
Jenis pengamen ada banyak sekali. Tak jarang hanya ecek-ecek saja. Beberapa sebenarnya sangatlah berbakat dan cukup menjadi hiburan yang berkualitas. Di jalur Solo-Purwodadi ada pengamen yang mungkin agak tak complete CPUnya, rambutnya gimbal, sering memakai kaos bercorak loreng2 ala TNI. Lagu yang dia nyanyikan sebenarnya lagu Kuncung nya Alm. Basuki. Tapi hanya sepatah dua patah kata yang disebut dengan pengulangan dan gaya yang khas :D
Lain cerita di area terminal Bawen. Ada pengamen yang nyanyinya lagu rohani, "Bahasa Cinta". Di area halte Kerten Solo, ada pengamen seger yang mainnya biola dan yang ini bener berkualitas coy! Area bangjo UMS Solo, ada pengamen dengan keterbelakangan mental yang hanya bergumam dan icrik icrik dengan tutup botol, tapi selalu terlihat bersemangat kala bekerja :). Lupa tepatnya, seingatku area Boyolali, ada pengamen yang memakai wayang dan ndalang ada juga yang baca puisi :)
Bagaimana cerita tentang sumbangan?
Nahhh, yang ini sih modusnya macam2. Yang paling aku heran di kawasan Klaten-Solo. Ada yang meminta sumbangan atas nama perkumpulan pengamen seKlaten yang hendak mengadakan sunatan masal. Aku tak tahu apakah ini terkategorikan penipuan atau tidak, tapi yang membuatku ilfil adalah di amplop yang diberikan tertulis acara akan diadakan tanggal sekian sekian sekian dan beberapa bulan setelah itu, tanggalnya diperbaharui, tapi dengan jeda yang tidak masuk akal. Naahh lhooo!!!
Ada cerita tentang kejahilanku di amplop seorang pengamen. Setelah amplop dibagikan, kubaca kata2 disitu dan ada satu kata menggelitik yang buatku mengesankan jika si peminta sumbangan ini tak mau kerja dan mau enaknya. Aku ingat pernah merevisi kata2 itu (sayang aku lupa detailnya). Yaahhh, paling juga hal2 seperti itu tidak akan diperhatikan, hanya kejahilanku dalam melihat sekitar saja.
Cerita tentang penipuan
Salah satu bentuk penipuan dalam kotak berjalan yang pernah aku lihat adalah burung yang bisa bernyanyi. Burungnya sih burung beneran, tapi bisa nyanyinya itu yang jadi modus. Pelakunya beberapa orang nih, keroyokan, antara 3-4 orang. Pas di tengah bis sedang berjalan, tiba2 ada kejadian mengagetkan tentang penumpang yang membawa burung dan burungnya hendak lepas. Naaahh, di moment inilah mereka mulai mencuri perhatian para penumpang. Setelah perhatian para penumpang tertuju pada si bapak dan burungnya, si bapak empunya burung lalu bercerita tentang kehebatan si burung dan kemudian ditimpali dengan respon yang seru dan bersahabat oleh penumpang lainnya yang ternyata adalah komplotan sesama penipu.
Diceritaken si burung ini bisa bernyanyi (lagu apa ya lupa? Garuda Pancasila kalo tak salah) dan dia sudah menang kontes. Sebenarnya sih itu suara nyanyian si bapak penipu, bukan nyanyian si burung. Para bapak2 penipu ini saling menimpali satu sama lain untuk memberi kesan pada penumpang lain kalau burung mereka tersebut hebat. Akhirnya akan ada satu penumpang yang terlena dan menawar untuk membeli burung tersebut. Kisaran harga yang ditawarkan mendekati 500rb rupiah. Jika si calon korban menawar dengan harga rendah, maka komplotan penipu yang lain akan mengompori dengan bilang "Wah ini sudah menang kontes lho mas/mbak! Kalo di pasaran gak akan boleh harga segitu! Udah segitu aja ambil, gak mahal itu!"
Singkat cerita, si korban tertipu pun memutuskan untuk membeli. Aku sudah berkali2 menyaksikan penipuan ini dan yang masih aku ingat seorang wanita yang membeli burung tipuan itu seharga Rp300.000,-. Setelah uang diberikan, burung berpindah ke tangan korban, komplotan ini akan menunggu barang 1-2 menit bis berjalan dan turun dari bis secara bersamaan dari 2 pintu yang berbeda, depan dan belakang. Si korban pun melongo karena mendapati si burung tak bisa bernyanyi semerdu lipsing bapak2 penipu yang telah lari tak terlacak lagi.
Diceritaken si burung ini bisa bernyanyi (lagu apa ya lupa? Garuda Pancasila kalo tak salah) dan dia sudah menang kontes. Sebenarnya sih itu suara nyanyian si bapak penipu, bukan nyanyian si burung. Para bapak2 penipu ini saling menimpali satu sama lain untuk memberi kesan pada penumpang lain kalau burung mereka tersebut hebat. Akhirnya akan ada satu penumpang yang terlena dan menawar untuk membeli burung tersebut. Kisaran harga yang ditawarkan mendekati 500rb rupiah. Jika si calon korban menawar dengan harga rendah, maka komplotan penipu yang lain akan mengompori dengan bilang "Wah ini sudah menang kontes lho mas/mbak! Kalo di pasaran gak akan boleh harga segitu! Udah segitu aja ambil, gak mahal itu!"
Singkat cerita, si korban tertipu pun memutuskan untuk membeli. Aku sudah berkali2 menyaksikan penipuan ini dan yang masih aku ingat seorang wanita yang membeli burung tipuan itu seharga Rp300.000,-. Setelah uang diberikan, burung berpindah ke tangan korban, komplotan ini akan menunggu barang 1-2 menit bis berjalan dan turun dari bis secara bersamaan dari 2 pintu yang berbeda, depan dan belakang. Si korban pun melongo karena mendapati si burung tak bisa bernyanyi semerdu lipsing bapak2 penipu yang telah lari tak terlacak lagi.
Cerita tentang cinta
Beribu maaf kuhaturkan, karena cerita tentang cinta di dalam bis ini bukanlah antara aku dan mas Fredy atau cerita pertemuan romantis antara aku dan seorang lelaki. Cerita cinta dalam bis umum adalah cerita cinta satu malam.... Eittssss, jangan salah praduga dulu. Cinta satu malamnya memang tak pernah terjadi, hanya indikasi mengarah kesana.
Sebenarnya ini lebih tepat dikatakan sebagai pelecehan seksual skala ringan. Kejadian pertama, saat itu aku masih SMA dan pulang sekolah naik bis dari terminal Purwodadi. Ketika itu aku bersama dengan temanku Cilpong dan aku duduk di sebelah pinggir sementara dia di dekat jendela. Kami asik dengan lamunan masing2. Bis belum berangkat dan ada satu penjual asongan yang menjajakan dagangan. Sesampainya di jokku, si mas asongan ini menyandar dan (maaf) menggosokkan bagian vitalnya ke lengan kananku yang terposisi sejajar dengan bagian itunya. Pertama aku takut sekali, itu pertamakalinya terjadi padaku dan tak berani melawan terang-terangan. Kemudian aku bergerak agak kedepan seolah membenarkan posisi duduk dan si mas asongan itu berlalu ke belakang. Sampai saat ini aku tak tahu apakah temanku Cilpong menyadari kejadian itu atau tidak :D
Kejadian kedua dengan bapak2 hidung belang yang duduk disebelahku. Nah, saat duduk posisi tangannya terlipat atau kata orang Jawa sedeku (tapi tanpa meja dan tanpa mirengake bu guru :D). Dengan posisi yang terlipat ini, jemari si bapak meraba (maaf) bagian samping payudara saya. Aku lupa tepatnya kapan, tapi saat itu aku sudah lebih mature dan sudah lepas SMA. Karena sudah pernah mengalami kejadian sejenis, kali ini aku berani negor si bapak, "Pak, njenengan ampun kurang ajar nggih!!" Si bapak yang daritadi pura2 tidur ini tak bergeming, tak memberi respon apapun. Ketika itu aku tak lantas berpindah tempat duduk dan tak usah tanya kenapa, aku sendiri juga tak tahu. Yang jelas sepanjang perjalanan si bapak tidak berani macam2 lagi, dan akupun mengambil posisi aman dengan tidak bersandar pada tempat duduk yang bisa memudahkan aksesnya untuk merabaku dengan tangannya yang berlipat.
Kejadian ketiga dengan kondektur yang wajahnya sudah lama aku kenal (tapi gak ada istilah keceng2an yaaa, yaela, guweh kan buka cewe cabe-cabean). Ketika aku akan turun dari bis, si kondektur ini berbisik "Kamu mau nggak, kuajak satu malam ke Tawangmangu?".. Waikiii!!! Tipsnya kalo nemu hidung belang macam begini, tak perlu direspon nyolot2, tak ada gunanya juga. Cukup tenang saja dan tak perlu dijawab. Karena kejadiannya ini pas turun jadi cuma sekejap mata dan aku bisa lari dari si hidung belang. Tapi jika seandainya kejadiannya pas kamu masih duduk untuk waktu yang agak lama (biasanya kalo ada cewe duduk sendirian nih), tak perlu nyolot juga, tak menyelesaikan masalah, cukuplah dengan menolak secara halus. Jika ia masih ngeyel, dicuekin saja, tak usah ditanggapi, palingkan pandangan ke hal lain seperti melihat pemandangan di luar kaca. Jadi apakah nyolot benar2 tak perlu? Hmmmm... Jika si penggoda cuma di mulut saja, itu masih tolerable. Lain hal kalo sudah seperti cerita pertama dan keduaku, karena itu sudah main fisik coy!! Tegurlah dengan nada yang berwibawa, karena perempuan berwibawa lebih membikin merinding daripada perempuan nyolot, hahahahah.
Sebenarnya ini lebih tepat dikatakan sebagai pelecehan seksual skala ringan. Kejadian pertama, saat itu aku masih SMA dan pulang sekolah naik bis dari terminal Purwodadi. Ketika itu aku bersama dengan temanku Cilpong dan aku duduk di sebelah pinggir sementara dia di dekat jendela. Kami asik dengan lamunan masing2. Bis belum berangkat dan ada satu penjual asongan yang menjajakan dagangan. Sesampainya di jokku, si mas asongan ini menyandar dan (maaf) menggosokkan bagian vitalnya ke lengan kananku yang terposisi sejajar dengan bagian itunya. Pertama aku takut sekali, itu pertamakalinya terjadi padaku dan tak berani melawan terang-terangan. Kemudian aku bergerak agak kedepan seolah membenarkan posisi duduk dan si mas asongan itu berlalu ke belakang. Sampai saat ini aku tak tahu apakah temanku Cilpong menyadari kejadian itu atau tidak :D
Kejadian kedua dengan bapak2 hidung belang yang duduk disebelahku. Nah, saat duduk posisi tangannya terlipat atau kata orang Jawa sedeku (tapi tanpa meja dan tanpa mirengake bu guru :D). Dengan posisi yang terlipat ini, jemari si bapak meraba (maaf) bagian samping payudara saya. Aku lupa tepatnya kapan, tapi saat itu aku sudah lebih mature dan sudah lepas SMA. Karena sudah pernah mengalami kejadian sejenis, kali ini aku berani negor si bapak, "Pak, njenengan ampun kurang ajar nggih!!" Si bapak yang daritadi pura2 tidur ini tak bergeming, tak memberi respon apapun. Ketika itu aku tak lantas berpindah tempat duduk dan tak usah tanya kenapa, aku sendiri juga tak tahu. Yang jelas sepanjang perjalanan si bapak tidak berani macam2 lagi, dan akupun mengambil posisi aman dengan tidak bersandar pada tempat duduk yang bisa memudahkan aksesnya untuk merabaku dengan tangannya yang berlipat.
Kejadian ketiga dengan kondektur yang wajahnya sudah lama aku kenal (tapi gak ada istilah keceng2an yaaa, yaela, guweh kan buka cewe cabe-cabean). Ketika aku akan turun dari bis, si kondektur ini berbisik "Kamu mau nggak, kuajak satu malam ke Tawangmangu?".. Waikiii!!! Tipsnya kalo nemu hidung belang macam begini, tak perlu direspon nyolot2, tak ada gunanya juga. Cukup tenang saja dan tak perlu dijawab. Karena kejadiannya ini pas turun jadi cuma sekejap mata dan aku bisa lari dari si hidung belang. Tapi jika seandainya kejadiannya pas kamu masih duduk untuk waktu yang agak lama (biasanya kalo ada cewe duduk sendirian nih), tak perlu nyolot juga, tak menyelesaikan masalah, cukuplah dengan menolak secara halus. Jika ia masih ngeyel, dicuekin saja, tak usah ditanggapi, palingkan pandangan ke hal lain seperti melihat pemandangan di luar kaca. Jadi apakah nyolot benar2 tak perlu? Hmmmm... Jika si penggoda cuma di mulut saja, itu masih tolerable. Lain hal kalo sudah seperti cerita pertama dan keduaku, karena itu sudah main fisik coy!! Tegurlah dengan nada yang berwibawa, karena perempuan berwibawa lebih membikin merinding daripada perempuan nyolot, hahahahah.
Tips-tips lain dari cerita Ciki dan bis umum
Ketika kamu berada di bis umum, praktekkanlah hal-hal dibawah ini:
- Jika kamu melihat penjaja koran di bus umum, belilah satu koran. Tak perlu mahal-mahal. Ada kok koran lokal seharga Rp 1.000,-. Kalau perjalananmu panjang, lumayan bisa buat bacaan. Kalau hari sedang panas-panasnya, lumayan bisa buat kipas kipas. Dan saking murahnya, satu koran bisa dibagi dengan penumpang di sebelahmu.
- Jika kamu mendapat jatah duduk dan kamu dalam keadaan bugar dan memungkinkan, berikanlah tempat dudukmu untuk orang tua, ibu2, atau anak2 kecil yang berdiri.
- Kalau ibu2 yang menggendong anak kecil tidak mau duduk, tawarkanlah untuk memangku anaknya. (Tapi kalo tips yang satu ini tak bisa ku jalani, aku mending berdiri saja deh daripada mangku anak orang, takut kalo dimabokin dan anaknya rewel sih :D)
- Jika bis sesak dan kamu berdiri, jangan menganggap lorong bis adalah runway. Janganlah malas untuk bergeser. Acapkali kejadian karena di bagian tengah si penumpang tak mau bergeser ke tengah jadi penumpang lain harus berdesakan di bagian depan/belakang bahkan di pintu2 bis. Atau, si penumpang mau cari nyamannya sendiri, tidak mau bergeser sedikitpun dan tidak mau berbagi pegangan untuk penumpang lain. Tak perlu menunggu didikte dan dimintai, jika penumpang di sebelahmu tak menemukan spot nyamannya, janganlah malas untuk berbagi space dengannya.
- Jika penumpang asing di sebelahmu memulai pembicaraan yang tak kau suka apalagi bernada flirting. Jangan merasa tak enak untuk mengacuhkan atau berpindah tempat duduk. 75% dari 100% percakapan dengan orang asing dalam bis yang kualami merupakan percakapan yang tak bermutu!
- Jangan pernah menggendong ransel/menyelempangkan tas ke bagian belakang! Dan jangan menaruh hape/dompet di kantong celana/jaket dan tempat2 yang mudah diraih! Rawan copet!
- Jika kamu mendapat jatah tempat duduk dan di sampingmu ada seseorang berdiri membawa barang yang agak mengganggu atau merangsek space bersandarmu, janganlah marah! Coba posisikan dirimu jika kamu berdiri di tempat dia. Kalau aku sendiri selalu berusaha membuat nyaman semua, berdiri memang tak enak dan serba susah jadi dimaklumi saja kalaupun kita duduk agak terganggu. Dan ketika aku berdiri pun sebisa mungkin kuusahakan agar orang yang duduk dihadapanku tidak terganggu dengan keberadaanku atau barang2ku.
- Jangan tergesa-gesa dan jangan terlalu heboh. Santai saja, jangan kemrungsung. Biasanya orang-orang yang kemrungsung dan telalu heboh rawan jadi sasaran asongan yang memaksakan dagangan dengan cara halus tapi mematikan dan rawan tindak penipuan.
Wwuuuuaahhhhh, panjaaang sekali ini jadinya... Memang cerita dari bis umum yang kualami sangatlah beraneka ragam. Jika ada waktu membaca sampai di bagian penutup ini, sempatkanlah juga membaca Berbuat baik itu konyol dan Ekonomi Purwodadi - Solo.
Mungkin ada kejadian2 kecil lain yang terjadi dan akan terjadi di mas mendatang. Bukankah banyak hal yang bisa dinikmati dan dimaknai dari melihat sekitar, melihat sekitar, melihat sekitar,... melihat diri :)