Aku Bagian Dirimu

"Aku tak akan pernah pergi. Aku adalah bagian dirimu. Membunuhku sama seperti membunuh dirimu sendiri. Kamu tak akan sanggup kan? Karena kekuatanmu, yang rapuh tapi angkuh."

"Iya sebentar, aku masih ada satu urusan tak terselesaikan."

"Kamu bilang 'tak', bukan 'belum'. Kamu kan tau, aku tidak suka menunggu lama! Ya sudah, aku tunggu di ujung jalan. Sama seperti jalan-jalan yang sebelumnya. Sepanjang apa kau mencapainya, aku akan selalu ada, di ujungnya."


Hush hush! Tak bisa kuhalau gema bising diantara kedua telingaku.
Enyah! Enyah! Kubilang sudah! Tapi ia tak mau mengalah.
Aku dan dia saling berkejaran. Tapi dengan berbalik arah membelakangi satu sama lain. Konon katanya bumi itu bulat. Jadi aku berusaha lari selambat mungkin. Karena jika memang bulat adanya, kami akan bertemu lagi di suatu titik. Dan dia akan mulai menggerutu.


"Kamu kan tau, aku tak suka menunggu lama! Coba pikirkan, mengapa aku harus menunggu lama, mengapa kamu harus menghindar, kalau dari awalnya kita sudah tau, kamu akan membunuhku!"


Gema suaranya selayak lebah terperangkap di antara kedua telingaku.


"Ingat! Membunuhku adalah membunuh dirimu sendiri. Aku bagian dirimu."


Lalu aku berpikir, adakah bagian diriku lain yang sama kuat untuk menunda pertemuanku dengannya, di ujung jalan tempat dia selalu menunggu.

Brutal honesty about bipolarity: I don't want to be cured (yet)!

Happy first memorial! 
A year forward is a year backward



Ketika pertama kali sadar dengan kebipolaran, aku berusaha mendeny dan menganggap ahhh ini hanyalah mood swing, PMS, nature perempuan, masih muda dan bergejolak, belum dewasa. Bertahun-tahun fight, thinking that it's gonna end one day, ternyata di kemudian hari memilih pasrah tidak melawan lagi. I accept it!



Back then, if I was so smart to realize, sejak sekolah dasar! Bayangkan! Bertahun tahun!. When I look at myself in the mirror, I wish I could scream to my younger self; "Jangan! Jangan larut dalam fantasi! Jangan ciptakan karakter bayangan yang suatu hari akan membunuhmu. Menggerogoti dirimu perlahan-lahan dari dalam. Someday, you ain't gonna be able to handle that other side of you. So don't even try!" Tapi apalah yang diketahui seorang belia yang harusnya inosen tapi dipaksa dewasa sebelum waktunya. Ketika realita tidak lagi menjadi kawan, fantasimu pun menguasai mental. Karena kamu tidak cukup sadar, ada sebuah akhir di tebing curam ketika kamu terus dan terus berlari. Ada sebuah janji yang akan digenapi. The end of all beginning. Tapi bagaimana bisa kamu menolak sebuah obat ketika kamu sakit.



Honestly, aku tak tau apa ada kaitannya dengan turunan. Zodiac mungkin? As most Scorpion have the darkest emotion you could ever imagine. Like an iceberg. Tapi awal kemunculan kebipolaran dalam diriku adalah otak dan hati yang terlalu dini untuk sadar; "Something's off", "It's not supposed to be like this", "No, what they see is so fuckin' wrong", "There's something beyond it! I knew and I need to find out!". Being a childhood broken glass bukanlah titik terberat yang memunculkan kebipolaran. Lebih pada kenapa aku selalu mempertanyakan apa yang di sekelilingku. Dan ketika apa yang aku anggap "Harusnya formulanya seperti ini", tidak terjadi pada real-life, I tend to run, tend to seek for distraction. Disappointed dengan what's happening surround me, jika orang lain melihat dengan mata normal dan aku melihat dengan mata juling, aku memilih lari dari kenyataan dan bersahabat dengan fantasi. Berbicara dengan "my other side" who don't put on a mask at all. Seolah dia yang paling mengerti dan bisa menentramkan jiwaku. Dan bahkan jika aku berdoa pun, aku tak yakin aku bicara pada tuhan atau diriku sendiri.

Tapi, dia, diriku yang lain, tidaklah selalu baik, protecting dan berperan jadi guardian angel (Hmmm, aku selalu percaya sisi lain itu tak cuma satu, ada banyak. Seperti Sybil. Si gadis dengan 16 kepribadian). Dia kadang menguasai aku, menjadi kesetanan, memberontak, dan tak peduli. Dia senang kalau aku reckless dan menyakiti jiwa lain. Tapi yang aku tahu, ketika aku sudah calm down dan menyesali semua tindakan nekatku, dia tak pernah beranjak pergi. Dia akan menemaniku duduk menangis. Dia tak menertawakanku. Dia akan mengelus rambutku dan berbisik "It's what it supposed to be".




Tantangan berat mengidap bipolar disorder adalah bagaimana orang melihat kita sebagai seorang hipokrit. Karena up dan down di sela-sela period itu menunjukkan diri kita seperti layaknya koin recehan, dua sisi dan worthless. Banyak yang tidak bisa membaca, jika hypomania dan depressive period itu diluar kontrol kita. Tidak sekedar, today I decide to be happy or sad. Bahkan ketika kamu memulai hari dengan happiness, kamu gak bisa menjamin apa yang terjadi di sela sela dan akhir sebuah hari. It's flipping so easily, bahkan dalam satu hari bisa hypomanic-depressive-hypomanic-depressive, atau kadang mixed. Taukah kamu, aku tak pernah bisa mengontrol diriku untuk kembali ke normal state of mood. Yang aku bisa lakukan hanya menunggu. Waktu tunggu yang panjang dan melelahkan. Biasanya kuisi dengan menangis, tidur, atau melakukan hal hal yang tidak terencana dan tak terpikirkan oleh akal sehat. Normal state akan muncul sendiri. Seperti mempermainkan aku; "Hai kamu sepertinya masih kuat, belum kelelahan, kuberi kamu satu level up lagi; hmmmm mania atau depressive ya, biar lebih seru kuberi kau mixed period". Cara melawan semua permainannya hanya distraction. Distract my mind as much as I could. And this is the reason why I'm turning into a heavy-smoker. Smoking distract me so perfectly in various states. Sedikit yang sadar, saat aku menyulut batang berikutnya dalam jeda hitungan detik saja, there's something off in my mind.



Aku benci ketika orang bilang "Coba kamu bisa kontrol dan sembuh, benefitnya akan lebih banyak lagi. Hidupmu akan lebih maksimal." Heiiiii, kalimat itu seperti halnya kamu berbisik pada seseorang dengan kaki yang patah untuk berlari. Jangankan berlari, masih percaya jika punya kaki, itu sudah bagus. And that's me, with a broken leg, I won't be able to walk straight on the line. Don't be a jerk and ask me to run! Just believe in me, I won't stop even I have to move by dragging my body. Ngesot, kan lumayan, udah sexy bisa ngesot, kaya suster suster di fantasi kalian. Satu trick untuk men-support depressive people; don't expect too much! Let them working on themselves. Itulah kenapa if you consider yourself depressed, you need somebody strong and patience. Not to lead you, but simply just be by your side. Hold your hand while you're getting through the storms.



Me? Hmmmh, I'm not the best healer. Sebelum kalian consider me as the best healer, sebelum kalian terlalu mabuk dengan my strength, be aware, I have my down moments as well. Beautifully fuckable and intriguing.

Hypomania state

Biasanya kualami bukan dari normal up ke state ini. Lebih seringnya dari depressive langsung jump jadi elation. Jadi bisa dibayangkan setelah "creating the wall", locking yourself up dan tiba-tiba up menjadi cheerful dan motivated. You can imagine how would you look like in people's eye. Seperti seorang hipokrit yang tak "sumbut" (kalo istilah orang Jawa). This what makes some people give up on me! "Numerous people with bipolar disorder have credited hypomania with giving them an edge in their theater of work." It does! Dalam sekejap aku menjadi hiperaktif, talkative, otak seperti galaksi bintang. Biasanya di moment ini I could pour all of my ideas. I write, I work harder than usual, increasing task completion and satisfaction, cleaning up (not related with OCD tough). Social sense juga meningkat, nature to listen and support people. Ruginya, I face excessive loss of sleep dan kadang karena terlalu hiperaktif bisa melakukan suatu tindakan yang reckless.

Normal state
I hate to admit that it's kinda boring. Justru di state ini lah aku lebih punya banyak unfinished tasks. I just feel blunt, stupid and lazy. Talkative tingkat sedang, tidak hiper dan tidak diam. Dan masih ada passion untuk helping others.

Depressive state
The worst state ever! Kadang tidak ada trigger sama sekali. I just feel low, worthless, susah mikir way out, self-blaming, low self-esteem, opheliac tendency. Unlike hypomania, di state ini malah cenderung having excessive sleep. Tapi tetep aja gak bagus. Aku lupa makan, lupa mandi, shut people down. Biasanya aku akan kehilangan ability to socially "fit-in". Kalau datang bersamaan dengan suatu bad event, honestly, suicidal tendency itu ada. Excessive sleep di state ini hanya distraction agar lupa dengan whatever surrounding me. Biar hari cepat berlalu. Biar numb dan gak perlu merasakan apa apa.


I don't know how it will end someday. Dalam pemikiran pendeknya, kemungkinan berakhir dengan suicidal tendencies itu ada. Dalam pemikiran panjang, kemungkinan simply reducing my life span.

Suicide? Hmmmmmmhhhhh




I'm not sure if he has bipolar symptom as well. I guess he is just beautifully depressed, but able to put the perfect mask on. Using heart-welhming and poetic lyrical music as his theater of depression.

One false thought about people with suicidal tendencies is... Orang akan menganggap mereka tidak berjuang. Thanks to my lil' sis yang punya perspektif sama; "Aku salut dengan orang yang suicide. Orang hanya melihat mereka menyerah, tapi tak melihat kalau mereka pernah berjuang. Dan ketika aku mengutarakan ini pada teman-temanku, mereka menganggap aku gila. Padahal I'm just able to relate LP's dark lyrics." (sepertinya dia benar kalo kami sekandung tak diberi porsi fisik yang sama, tapi porsi batin yang sama)



Mungkin mereka pernah berjuang to be healed, to be cured, to be saved, to see one more light. I do too! Aku tak bilang jika perjuangan hanya dimiliki orang orang abnormal. Kita semua punya perjuangan. Hanya saja dalam mental bipolar, perjuangan itu berlipat ganda (and here's to all the broken and mentally-illed people)! Hey, I'm not trying to compete as the most victimized and in despair person in the world! I'm trying to show you the idea of being bipolar! Dan bahkan setelah bertahun tahun, saat aku sudah mulai bisa memaafkan diri sendiri dan sedikit demi sedikit berdamai dengan apa yang ada di sekitarku, trying to be as real as possible with no mask, dua sisi itu tetap ada.

We all have been trying to save ourselves. Tapi dimasa aku menuangkan tulisan ini. I extremely don't want to be cured! It does exhausting! Tapi ada sisi yang menyayangkan ketika kebipolaran ini harus disembuhkan. Karena, dari period depressive dan hypomania itulah, datang state dimana bisa dirumuskan purest thought and words from the heart.


Membayangkan sembuh, betapa bisa kita hidup normal. Humm, sepertinya asyik? Ahh, masak sih seasyik itu. Normal is boring, isn't it?!



It's exhausting! Tapi ketika aku selalu stuck dan belum mendapat jalan keluar untuk sembuh, the best thing I could do adalah bagaimana aku bisa squeeze the benefits of having bipolarity. Aku pelajari symptom yang ada, keep a journal of what state I am at this time, what's triggering it. Then find the formula, the mechanism of depression and happiness, how could I take the benefit from each state.

I don't want to be cured! Mungkin di kemudian hari, tapi tidak sekarang. Seperti pelakon teater yang pensiun. Aku akan kehilangan sebuah muse. Sebuah chance untuk boost myself up. Sebuah chance untuk berkarya maksimal. Dan chance untuk having something to inspire and help people. Using the broken pieces to complete other cracks. My one and only redemption.





The priviledge and curse of being bipolar

As not so many people could bear my strength, only a few could bear my weakness either.

Somehow, it's dazling, nevertheless intimidating and poisonous.

You may enjoy plucking the petals of rose, but beware of touching the thorn.

It's a priviledge and a curse of being bipolar.

#onlyyoucouldsaveyourself

What a minority wants

Here's a little trick...

When you smell something's wrong with a person. You would like to ask "What happen?"

There is a minority who doesn't need that question. They'd rather hear you ask "Are you still holding up?"

All they want you to know is they are not okay, but they're trying to fight. Whether they would survive or not.

Don't push them to say anything else. The battle is between them and theirselves. They don't expect you to solve their problem. Sometimes, they do already know the answer. Don't give them false hope or meaningless advices, just keep them in your prayers.

Dan Kita Hanya Menunggu Tiba Waktunya

Terus bermimpi, untuk bersembunyi
Terus berfantasi, untuk berlari
Terus memakai topeng, untuk menutup pedih

Karena tak ada yang bisa mengerti sakit kita
Karena hanya kita bisa rasa
Tajam kerikil di sela langkah
Sesak menyeruak di rongga dada

Dan terus begitu
Cara kita mengisi waktu
Saat tak ada jalan lagi di depan mata
Menghindar dan menghindar
Sampai suatu saat nanti
Tiba waktu untuk menyerah
Dari semua permainan
Yang tak akan kita menangkan

Nobody's A Saint

Kejujuranmu meremukkan harapku
Harap yang percaya jika kalian baik-baik saja
Harap yang percaya jika kalian tidaklah sakit
Seperti aku

Ternyata, kalian tak lebih mulia
Dan entah aku tak tau lagi mana yang harus kupercaya
Seperti merasa dikhianati, tapi tidak berhak
Seperti ikut sakit, tapi tak menjadi bagian didalam cerita

Semua sudah kuawali dalam rasa lelah
Tetap masih kucoba percaya
Tapi sekarang aku muak dengan permainan kalian

Dan sekarang aku marah
Karena jilatan yang kalian lontarkan
Kenapa harus kalian yang menjadi sang munafik
Aku tak tau kawan macam apa yang harus kupertahankan

Dalam sekejap semua samar

Disabling Social Media: The reason why...

After months of observing and thoughfull consideration, interviewing people about why do and don't you have social media. I finally decide to disable mine. The first one was BBM, nearly a year ago. Then Facebook, the month before Ramadhan 2018. Lately, my Instagram account. I couldn't disable WhatsApp as this is a crucial medium for daily communication, but still I selectively chose the audience.

Those months of observing, I find out silly and widely acceptable phenomenons that makes me cringe.


Society Standards
The first thing that comes up as the society standard, IS THE GOOD ONE! The bright side. Light is easy to love, but darkness? Some people choose to cover it, fix it, or dance with it. I don't claim that one of those choice is better than the others. Every choice has it's own battle and consequences. However, I'm done enough seeing people widely accept "Fix it" as the best and the must be done choice. Some people choose to dance with their darkness, you know! See deeper for the reason of why they do it. Not all darkness are easily able to be covered or fixed. Damaged people could take the opportunity by dancing with it for a good deed. It takes big guts to fight your darkness. And to dance with it, it needs even bigger one! And it's completely okay if a person choose to dance with it. If it doesn't harm you, why bother directing other people to only see the bright side? Are you able to see from dark side as well? What would you get? Heaven? Ohhhh.... man! We're living in hell already!

Public Image and Profiling
Such a shame that I found out, even the closest people of you could receive the false message. When I post about depression, stress or bad circumstances, it doesn't mean that I'm the one or my current closest people suffering it. It could be just imaginary brainstorm. When I post about all the fun, it doesn't mean that is my ultimate happiness. When I post about life events, it doesn't mean it's currently happening. It's no secret that some time I shut myself down from people. When I test it, by shutting down particular people and giving the only chance to see what's going on with my life through my social media, with addition observing the way they look other people's social media. They failed to see the true side of the subject. On one side, they don't want to interfere. On the other side, simply just a narrow mind to profile other's life by what they serve in public space. Wake up people! It's just an iceberg! When I say don't generalize people from what they want to show you in social media, and not all they share is telling you what's going on! They don't understand! What matters is what they see. And from how much you could see, if it's juicy, you must squeeze it! Hey, not all people sharing to get attention and giving answer. Some share stories seeking for answer you don't need to give. Endless question with endless answer. Either for themselves or others.

Public Approval
Remember the saying; "The limit of basic human right is other person's human rights". Freedom is bullshit. They keep saying "Be You!" but all they show is "Be You, but not that way!". I learnt that people could easily admire your petal of rose but unable to endure the thorn. It's getting clearer as I relate it with my bipolarity. People get thrilled during my normal episodes, but unable to handle me during my depressive or hypomanic periods. People love the side of me which is positive and cheerful, but unable to handle the eternal storm inside of me. They like my post about positivity, tasty food, fun friends and activities, unique experiences, happiness; but they dislike my post about negativity, sexual innuendos, sarcasm, anger and revenge. I understand if they have their own battle and choose positivity over negativity. That's what make them approve me to be the positive person, and direct me to choose bright path during my negative storm. You know, it's not always the ultimate solution! Not all red ledger stamped into your book of life is easy to be wiped out. The other reason related with point one on society standard is, they would approve as long as you follow their standard. My bad-ass side doesn't define that I'm a woman for no man, I'm a daughter for no mom, I'm a sister for no friend. My hatred to one man doesn't define that I won't surrender my whole self to the chosen one. My revenge to my mom doesn't define that I couldn't make her happy and proud. My social anxiety doesn't define that I won't be able to function as a good friend. It's silly when you need to get approval to be yourself. Don't they even understand the struggle of accepting our true self? It's exhausting especially for what they call as "abnormal" human being.


Finally, social media is just like when you go to a store and see the display window. You're not gonna buy and bring it home anyway. If it doesn't harm you, why should you use it to narrowly define and attack the subject? You may have your all assumption and opinion about other human being, but your nose still belongs to your face!

Serupa Hangat Seorang Pria

Merindu serupa hangat seorang pria
Tapi tak untuk bercinta-cinta
Ialah senyawa mengembara,
yang lalu tinggal di tempat jiwamu dihembuskan
Relung gelap yang membawamu masuk ke permainan dunia fana


Your little one grown up
She's no longer the little angel
She's the little demon who fulfill the prophecy
She knows now what beauty you covered behind the black veil,
what misery you covered behind the white veil
She touches now, with your hands
She walks now, with your feet
She thinks now, with your brain
She feels now, with your heart
And she sees now, with your eyes


Every single lesson she learned is priceless
But none of them, never did you teach about getting back to the root
As the most ultimate lesson ever
She learnt it by herself while enduring endless pain
Yes, you missed her
Gone before revealing what truly matters
Gone, just gone
Leaving the little one breathless years


Do you know, she's craving the side of you in every single man she falls for?
Until she realizes, only her could protect herself


Now how would you fight it
Now how could you fight it
To bring her home
Or, as we always know
It's no longer worth to fight for it anymore

November, 18th 2014 5:43 AM

Nightthinker Keparat!

Keparat sangat rasa mempertanyakan ini
Mengusik dikala terjaga saat langit masih kehilangan sinarnya
Memang sungguh keparat,
rasa mempertanyakan ini
Mengundang gairah beribu tandatanya di kepala
Kadangkala harus diredam
Tapi peredamnya selalu terhalang
Seperti lahar di kawah gunung dan air di kulit ari laut
Yang tak akan berjodoh tanpa hujan mempertemukan
Alam pun punya kasta?
Aku kira hanya bualan keangkuhan manusia!
Ah, sungguh keparat rasa mempertanyakan ini

Arcs

A note when I find it difficult to reach you, to drown in your darkness, to be ur one more light, and more, and more....

This is my way to keep beside you. Remember, you couldn't see my eyes, hold my hands, caress my hair. But we both know where our naked soul is. Laying in the deep sea no one could dive, no one could understand, no one could see. That's where you could feel the warmth in this cold bloody world. I want you to feel this strength.

I'm tired looking for what I deserve. Deserve is not something given. Deserve is what we created. And I don't wanna looking for this anymore. I find you, and I will make it one! We both deserve each other.

It might not end as we wish. It might be too good to be true. But it's worth trying. You are worth to fight for. You are worth to fall for. I quit searching, and start working on us.

So here I am.... Embracing you.... My arms would be the walls you lean on when you feel the emptyness.

Feeling hurt is unavoidable when you fall for someone. Let it be.... Otherwise, you couldn't call it love. Beautiful things require risks and sacrifice. Promise me, down let yourself down. Keep your head straight. Don't feel guilty. Don't regret it. Don't feel sorry. Don't make it a burden. I'm here to look after your soul.

Yogyakarta; 28 May 2018; 1:00 AM

A Real Orgasm

You know what real orgasm for me is?
It's when I reach the bottom and I'm able to put my mind into words.
Words that come from the purest heart.
Words that could inspire others.
It's not easy to be a candle in the darkness.
It's not easy to be a gold in the mid of shits.
It's not easy to be the broken and give away your pieces to complete other cracks.
But that feeling, the feeling of "God, I fuck my soul so hard I come!"
The feeling of total contentment and fulfillment.
That's my real orgasm.

Yogyakarta; 30 May 2018; 7:24 AM

Kisah 3 Desah Nafas dalam Satu Ranjang

Kalian sebut itu surga
Memberimu kepuasan fana
Menyengat saraf, memercik syahwat
Kalau kah surga, mengapa kalian menyebutnya godaan?
Bukankah godaan asalnya dari neraka?
Mungkin kalian saja yang buta!

Kalian sebut diri sebagai perkasa
Ketika bisa buka pangkal paha wanita
Kalau surga bisa jadi godaan, begitupun keperkasaan
Ia bisa menjadi kelemahan
Tanya diri kalian, kuat atau lemah kah?

Jogjakarta, Juni 2013
Kisah 3 Desah Nafas dalam Satu Ranjang

Menjelma Mendung

Kamu masih saja seperti awan, mendung
Kedatanganmu selalu kurindu
Hari masih lah pagi
Nanti siang datang dengan terik
Penat menjalani lakon dan pulang
Ke rumah, kita...
Panjangnya hari tak akan berarti
Kala sore kita telah menyambut
Karena kamu datang menjelma mendung
Rinduku padamu
Kamu, yang selalu ada di cerita cerita
Masa lalu, sekarang dan nanti

31 Oktober 2017; 6:20AM

Tentang Bipolar

People have been asking me, why am I so happy lately.
Weird huh?
I'm pretty well-known with this raging bitch reputation for years.
Am I fall in love? NO
Do I get tons of money? NO
Am I crazy? NO
Thing is, I'm still that one raging bitch you would die to kick my ass.


However, I realize one thing lately.
There's been a long-time struggle I endure to develop my own confidence,  fight my inner demon, build my self motivation, trying not to kill myself, living in somewhat perspective that revenge and negativity is the best motivation.
This struggle is so freaking exhausting.


And once I reach my balance, my "konsistensi sistemik" if you're an Ayu Utami book reader; somebody comes and brings me down;
You know what?
GO FUCK YOURSELF!
You don't deserve my attention.
You don't have the right to ruin the happiness I'd die fighting for.


See what's in here? I say YOU, but the key isn't YOU. It's ME, MYSELF.
I have the choice not to give a shit.
Because I value my long-time struggle.
I thank for friends, family and strangers who support me.


And for you who's feeling down or spreading negativity, I'm not trying to motivate you.
I'm not trying to make the world a better place.
I'm still that egocentric, raging bitch, self-absorbed person.


One day, I may be the one who spreads the negativity, whether I intend or not intend to.
I'M JUST TAKING CARE OF MYSELF, SO PLEASE TAKE CARE OF YOURSELF AS WELL.


@christalov

21 December 2017; 8:51 AM

Terserah...

Terserah...

Adalah satu kenyataan perempuan yg harus diterima lelaki.
Bisa jadi bukan kemalasan untuk menentukan keputusan.
Bisa jadi hanya cara perempuan mengutamakan lelakinya.
Atau memancing agar terpancing.

Terserah bukan berarti lemah.
Apalagi jika diucapkan sembari mendesah.
Hayooloohhh...


20 April 2018; 11:14 PM

It's Okay to Fall

You would never know how high you could soar,
if you're afraid of falling.

Fragile thing gets broken when it falls.
Be like ball.
Fall and bounce higher.

13 May 2018; 12:28 PM

Tentang Pulang ke Rumah dan Telanjang

Pulang ke rumah,
Kuseka wajah dari polesan 
Dan kotor debu dunia fana
Kubuka lemari, kupilih topeng apa yang harus kukenakan
Esok, ketika tuntutan peran panggung datang lagi

Bolehkah aku telanjang saja?
Tapi aku takut,
Kalian akan berbeda pandang
Karena citra dari kostum yang kukenakan
Poles wajah untuk menutup senyum yang tak lagi mengembang
Mata yang selalu sembab dengan lingkaran hitam
Cerminan lelah yang mengkonsumsi seribu malam
Keriput tanda penghabisan waktu yang sia sia

Akankah kalian tetap mencintaiku dalam telanjangku?
Apa aku harus melacur, agar kalian menghargaiku dalam telanjangku?
Pelacur yang citra pakaian dan polesan indahnya tak di pedulikan ketika sudah ditanggalkan?
Tapi taukah kau tentang pelacur?
Buka pakaian, mendesah basah, dan semua hanya berakhir sebagai bisnis selangkangan
Bisnis lendir yang katanya surga dunia
Di penghujung hari, dengan raga yang koyak, dunia pun tetap meninggalkannya

26 February 2018; 9:13 AM

The End of The Road

Mental illnes itu benar benar ada.
Terjelaskan secara ilmiah.
Dan kalau kalian lihat lebih jauh menerawang, ia ada di sekitar kalian.
Orang bisa tertawa tapi kalian tak pernah tau apa yang ada di pikiran mereka.
Battle apa yg ada di pikiran mereka.
Pertanyaan tentang apa yg akan kamu pilih untuk hari ini, satu hari ini saja, bukan sekedar mau pake baju apa, mau makan apa.
Sebuah pertanyaan yang simple tapi sangat berat dan kompleks, apakah kamu mau melanjutkan hari ini.

Stop mengatakan orang baper.
Stop mengatakan orang lebay.
Stop mengatakan orang galau.
Stop menjudge orang sebagai drama queen.
Stop menjudge orang kurang sabar tawakal.
Stop mengira jika orang tertawa dia tak punya beban.
Stop mengira jika orang mengisolasi diri ia egois.
Stop menganggap orang dengan dua sisi adalah hipokrit.

Permasalan mental, bukan tentang agamamu apa, seberapa sering kamu beribadah.
Permasalah mental, tidak bisa diselesaikan dengan hanya sekedar agama.

People with mental illness, kalian tau battle mereka ada dimana?
Diantara kuping kanan dan kiri.
Sebuah area gelap yang tak mudah kalian jamah.

Ketika orang itu sudah tak ada.
Kamu akan menyesal karena tak menyadari, ada orang- orang yang craving for help.
Dan kamu tak punya hak untuk menjudge orang itu bodoh, putus asa, kurang iman.
Kalian tidak akan pernah mengerti apa yg ada di pikiran people with mental illness.
Sebuah kompleksitas yg tak bisa terselesaikan dg kalimat "You're gonna be alright".
Mungkin you're gonna be alright today, but we never know what tomorrow would bring.

Kalian harus tau ini benar antara hidup dan mati.
Kalian harus tau, kalian tak berhak meminta dia tetap hidup.
Kalian harus bisa menerima jika suatu saat, sebuah janji untuk mati akan digenapi.
Tidak ada artinya kalian katakan, mengakhiri hidup akan membawamu ke neraka.
Kalian harus tau, tanpa mati pun, mereka telah menghuni neraka.
Semua manusia tujuannya sama, jalannya saja yang berbeda.


Yogyakarta; 28 May 2018; 00:54 AM